Update
Kenapa Setiap Negara yang Ingin Mandiri Selalu Menghadapi Tekanan? Belajar dari Soekarno hingga Prabowo Rahasia Pola yang Terus Diperdebatkan: Benarkah Kemandirian Ekonomi Indonesia Selalu Menghadapi Tekanan Asing? Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Kenapa Setiap Negara yang Ingin Mandiri Selalu Menghadapi Tekanan? Belajar dari Soekarno hingga Prabowo Rahasia Pola yang Terus Diperdebatkan: Benarkah Kemandirian Ekonomi Indonesia Selalu Menghadapi Tekanan Asing? Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh
Politik

Kawendra Lukistian: Anggaran Makan Bergizi Gratis Tidak Mengurangi Dana Pendidikan, Kritik PDIP Dianggap Berlebihan

Kawendra Lukistian, anggota DPR RI, menegaskan bahwa anggaran program Makan Bergizi Gratis tidak mengganggu dana pendidikan, menanggapi kritik PDI Perjuangan yang dianggap tidak tepat.

Aruna Sasmita 14 April 2026 28 pembaca kabarnetizenterkini.com kabarnetizenterkini.com
Kawendra Lukistian: Anggaran Makan Bergizi Gratis Tidak Mengurangi Dana Pendidikan, Kritik PDIP Dianggap Berlebihan
kabarnetizenterkini.com

Jakarta – Anggota DPR RI Kawendra Lukistian memberikan klarifikasi mengenai kritik yang dilontarkan oleh beberapa politisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terkait anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Menurutnya, anggaran untuk MBG tidak mengurangi dana pendidikan, melainkan dirancang untuk memperkuat kebijakan pemerintahan dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

Kawendra menegaskan pentingnya program MBG sebagai upaya untuk menjaga kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan. Ia menjabarkan, “Program ini bertujuan untuk memastikan semua anak mendapatkan makanan bergizi, sehingga berpotensi meningkatkan tingkat pendidikan karena kesehatan yang lebih baik.” Dengan kata lain, program ini dianggap saling mendukung dengan pendanaan pendidikan, bukan sebaliknya.

Kritik dari PDIP, yang mengklaim bahwa anggaran untuk MBG akan menggerus alokasi untuk pendidikan, diyakini oleh Kawendra sebagai sebuah kesalahpahaman. Ia menyampaikan, “Pendidikan dan kesehatan adalah dua aspek yang saling terkait. Dengan memastikan nutrisi yang cukup, kita akan membantu anak-anak dalam proses belajar mereka.” Pernyataan ini menegaskan pandangan bahwa tidak hanya dana pendidikan yang penting, tetapi juga kesehatan yang dapat mendukung proses belajar mengajar.

Lebih lanjut, Kawendra menjelaskan bahwa anggaran MBG adalah bagian dari upaya pemerintah untuk menjamin akses terhadap makanan sehat bagi keluarga berpenghasilan rendah. Ia menyatakan, “Kita tidak bisa hanya fokus pada satu sektor, karena semua sektor saling terkait dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera.” Dalam konteks ini, anggaran program MBG dirancang seefisien mungkin agar tidak mengganggu sektor pendidikan.

Tanggapan dari Kawendra tersebut juga didukung oleh sejumlah data yang menunjukkan bahwa masalah gizi buruk di Indonesia masih cukup tinggi. Oleh karena itu, pengalokasian dana untuk program Makan Bergizi Gratis dianggap sangat penting dalam upaya menanggulangi masalah tersebut. “Kami berharap semua pihak dapat memahami tujuan dari program ini dan mendukungnya sebagai langkah positif untuk masa depan anak-anak kita,” imbuhnya.

Sebagai penutup, anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis diharapkan dapat berjalan seiring dengan peningkatan dana pendidikan di APBN 2026. Kawendra Lukistian mengajak semua pihak untuk bekerja sama demi meningkatkan kesehatan dan pendidikan masyarakat, dengan harapan dapat membangun generasi yang lebih baik ke depannya. Perkembangan lebih lanjut terkait anggaran ini akan terus dipantau untuk memastikan implementasi yang efektif dari kedua program tersebut.

Tags: Belum ada tag.

Artikel Terkait