Tim SAR gabungan menemukan sebuah jeriken minyak berwarna biru pada hari kelima operasi pencarian delapan jurnalis yang hilang kontak di Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten. Penemuan ini dilaporkan oleh Basarnas, yang menyatakan bahwa jeriken tersebut ditemukan oleh unsur KN SAR Tetuka 247 di Sektor X pada koordinat 06°02.7161'S – 105°31.5414'E sekitar pukul 10.05 WIB.
"Temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pemantauan menggunakan drone dari KN SAR Tetuka. Namun, hingga hasil operasi hari kelima dilaporkan, belum dapat dipastikan bahwa jeriken tersebut berkaitan dengan speedboat atau delapan orang yang masih dalam pencarian," ungkap laporan Basarnas pada Sabtu malam.
Pencarian yang Terus Berlanjut
Pencarian di Sektor X, yang mencakup area seluas 380 NM², melibatkan unsur RBB Peucang yang berangkat dari Dermaga Paku Anyer dan melakukan penyisiran hingga sore hari dengan kondisi gelombang yang relatif tenang, yaitu 0–1 meter. Basarnas bersama seluruh unsur SAR gabungan menegaskan komitmennya untuk memverifikasi setiap barang temuan di laut demi mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai keberadaan delapan korban yang belum ditemukan.
Menurut laporan dari Pusat Pengendalian Operasi Basarnas, kapal cepat yang membawa rombongan jurnalis tersebut berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9) pukul 14.00 WIB untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Delapan orang yang dalam pencarian terdiri dari lima jurnalis, yaitu M Bagus Khoirunnas (Kantor Berita ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudhistiro (iNews), Firdaus (Anadolu), dan Donal (jurnalis lepas), serta tiga lainnya, yaitu Warta (kapten kapal), Surakman (ABK), dan Heriyanto (pemandu).
Komunikasi Terakhir Sebelum Hilang Kontak
Komunikasi terakhir yang tercatat menunjukkan bahwa korban sempat mengirimkan lokasi terkini kepada rekan-rekan jurnalis di Lampung pada pukul 14.42 WIB, namun hilang kontak pada pukul 15.04 WIB di titik koordinat yang diduga 6°14'40.52"S dan 105°40'49.48"T.
Operasi pencarian terus berlanjut sejak laporan hilang kontak diterima, melibatkan sumber daya dari berbagai unsur, termasuk Basarnas, TNI AL, Polri, dan sukarelawan. Armada yang dikerahkan mencakup KN SAR Tetuka milik Basarnas, serta beberapa kapal milik TNI AL dan Polairud, dan juga tiga unit Rigid Inflatable Boat (RIB) dari Kantor SAR Banten dan Kantor SAR Lampung, bersama dengan potensi SAR lokal seperti relawan dan nelayan.