Kementerian Pertahanan (Kemhan) telah mengubah konsep pelaksanaan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) menjadi pembekalan yang lebih fokus pada bela negara dan manajerial. Perubahan ini bertujuan untuk menciptakan suasana yang lebih mendukung bagi para peserta.
Kebijakan Baru untuk Peserta SPPI
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa dengan adanya perubahan ini, kebijakan menjadi lebih fleksibel. Peserta SPPI kini diperbolehkan untuk menggunakan telepon genggam pada waktu-waktu tertentu. "Sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi psikologis peserta serta aspirasi dari keluarga, penyelenggara juga memberikan kebijakan penggunaan telepon genggam pada waktu-waktu yang telah ditentukan," ungkap Rico.
Rico menambahkan bahwa penggunaan telepon genggam diharapkan dapat menjaga komunikasi positif dengan keluarga dan memperkuat semangat peserta selama masa pembekalan. Selain itu, peserta juga diberikan kesempatan untuk menerima kiriman barang dari keluarga dengan mengikuti mekanisme yang telah ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan. "Kebijakan ini merupakan bentuk kepercayaan kepada peserta. Sedangkan kiriman barang untuk menjaga moral peserta tanpa menimbulkan kesenjangan bagi peserta lainnya," jelasnya.
Evaluasi dan Penyesuaian Program
Rico juga mengingatkan bahwa jika peserta menghadapi kendala selama pembekalan, mereka didorong untuk menyampaikan masalah tersebut melalui jalur yang telah disediakan, baik kepada pelatih, pengasuh, maupun pimpinan satuan pendidikan. "Setiap masukan dan kendala akan ditindaklanjuti dengan cepat. Kementerian Pertahanan beserta seluruh panitia seleksi nasional akan terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan agar kegiatan ini berjalan lebih aman, proporsional, edukatif, dan sesuai dengan tujuan program nasional," tambahnya.
Perubahan ini merupakan hasil evaluasi dan penyesuaian dalam pelaksanaan pembekalan bagi peserta Program SPPI, yang ditujukan untuk calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. "Saat ini kegiatan diarahkan menjadi latihan pembekalan bela negara dan manajerial," kata Rico.
Rico menegaskan bahwa tujuan dari pembekalan ini bukan untuk menjadikan peserta sebagai prajurit atau komponen cadangan, melainkan untuk membangun karakter disiplin, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, tanggung jawab, kerja sama, serta kesiapan manajerial. Dalam penyesuaian ini, materi teknis dan taktis militer dihapus, termasuk kegiatan menembak dan taktik regu senapan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tidak ada lagi latihan fisik dalam pengertian militer, dan aktivitas yang ada hanya bersifat olahraga ringan untuk menjaga kebugaran, seperti senam pagi atau jalan kaki, dengan tetap memperhatikan kondisi masing-masing peserta. Kemhan juga memperkuat aspek kesehatan peserta melalui pemantauan harian dan pemeriksaan bagi peserta yang memiliki faktor risiko.
Rico menekankan bahwa prinsip utama dari seluruh penyesuaian ini adalah keselamatan dan kesehatan peserta. Namun, esensi dari pembekalan tetap dijaga, yaitu membentuk calon pengelola koperasi yang berkarakter, berintegritas, disiplin, memiliki jiwa kepemimpinan, semangat bela negara, serta siap mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat.