Pengamat politik Heru Subagia mengungkapkan bahwa pencalonan Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, di Dapil 5 Jawa Tengah pada Pemilu Legislatif 2029 merupakan bagian dari dinamika politik yang meningkatkan ketegangan di dalam PDIP. Heru berpendapat bahwa reaksi keras dari sejumlah elit PDIP terhadap keputusan Kaesang menunjukkan betapa pentingnya Dapil 5 Jateng bagi partai berlambang banteng tersebut. Ia menyatakan bahwa langkah Kaesang yang memilih untuk bertarung di Dapil 5, yang selama ini menjadi basis kuat PDIP dan Puan Maharani, memicu berbagai reaksi di kalangan partai politik.
“Ketika PSI memutuskan untuk berkompetisi di wilayah yang selama ini dianggap sebagai area dominasi PDIP, wajar jika muncul respons defensif. Ini bukan sekadar soal satu kursi, tetapi juga berkaitan dengan simbol dan marwah politik PDIP di Jateng,” jelas Heru pada Rabu (30/7/2026). Ia menambahkan bahwa tanggapan terhadap langkah Kaesang semakin ramai setelah beberapa tokoh nasional, termasuk mantan calon presiden 2024, memberikan komentar.
Sikap Moderat PAN dalam Kontestasi Politik
Heru juga menyoroti sikap Partai Amanat Nasional (PAN) yang cenderung moderat dibandingkan dengan PDIP. Wakil Ketua Umum PAN, Saleh Partaonan Daulay, sebelumnya menyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk maju di dapil mana pun. “PAN mengambil posisi sebagai kompetitor sehat. Mereka melihat ini sebagai kontestasi biasa dalam demokrasi. Sikap ini juga tidak lepas dari hubungan historis PAN dengan Jokowi, terutama saat Pilkada Solo hingga Pilpres 2024,” ungkap Heru.
Heru mengingatkan bahwa pada Pemilu 2024, PAN berhasil meraih satu kursi di Dapil 5 Jateng. Keberhasilan tersebut, menurutnya, tidak terlepas dari strategi politik dan jaringan yang dibangun PAN bersama kekuatan lokal.
Kedekatan PAN dan Jokowi serta Spekulasi Gibran 2029
Heru menekankan hubungan politik yang telah terjalin antara PAN dan Jokowi selama bertahun-tahun. Ia mencatat bahwa saat Rakornas PAN di Semarang, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan memberikan apresiasi khusus kepada Jokowi. “Kita tahu Zulkifli Hasan adalah politisi pragmatis. Ia memiliki kemampuan untuk membaca peta politik. Kedekatan dengan Jokowi bisa menjadi modal politik, terutama dalam membangun jaringan di daerah,” tambahnya.
Mengenai spekulasi tentang adanya dukungan politik atau "titipan" menteri, Heru mengingatkan publik agar berhati-hati. “Dalam politik koalisi, pembagian kursi kabinet dan dukungan politik adalah hal yang biasa. Namun, menuduh adanya tekanan atau 'sandera politik' harus disertai bukti. Jangan sampai analisis berubah menjadi asumsi yang tidak berdasar,” tegasnya.
Menanggapi kemungkinan Gibran Rakabuming Raka mencalonkan diri sebagai presiden pada 2029 dan sikap PAN ke depan, Heru berpendapat bahwa masih terlalu awal untuk membuat kesimpulan. “Zulkifli Hasan dikenal sebagai politikus yang fleksibel. Namun, keputusan politik untuk 2029 baru akan terlihat setelah peta koalisi terbentuk. Saat ini, fokus utama partai pasti tetap pada pemerintahan Prabowo-Gibran,” katanya.
Heru menutup analisisnya dengan mengingatkan bahwa politik di Jateng, khususnya Dapil 5, akan menjadi barometer persaingan nasional pada 2029. “Masuknya Kaesang ke Dapil 5 akan membuat peta persaingan semakin dinamis. Ini sehat untuk demokrasi, asalkan dilakukan dengan etika dan adu gagasan, bukan saling menyerang secara personal,” pungkasnya.