Update
Politik

Sindiran Laode M Syarif untuk Rocky Gerung Terkait Perdebatan Tentara dan Pertanian

Laode M Syarif, mantan Wakil Ketua KPK, memberikan sindiran kepada Rocky Gerung setelah perdebatan mengenai keterlibatan militer dalam program penanaman jagung. Ia menilai sikap Rocky yang kritis terh...

Karim Abinaya 14 September 2026 3 pembaca fajar.co.id fajar.co.id
Pengamat Politik, Rocky Gerung
Pengamat Politik, Rocky Gerung

Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Laode M Syarif, melontarkan sindiran kepada pengamat politik Rocky Gerung setelah terjadinya perdebatan antara Rocky dan pakar hukum tata negara, Feri Amsari. Perdebatan tersebut membahas tentang keterlibatan tentara dalam program penanaman jagung. Laode menyampaikan pandangannya melalui akun X miliknya, menyoroti perubahan sikap Rocky yang dikenal kritis terhadap kebijakan pemerintah.

“Konsisten cerdas itu….ternyata mahal …. akhirnya jadi ‘dungu’ juga MAAF,” tulis Laode dalam unggahannya yang dikutip pada Senin (14/9/2026). Sindiran ini muncul setelah Laode menyaksikan perdebatan antara Rocky dan Feri, yang juga membahas keterlibatan prajurit TNI dalam sektor pertanian serta kekhawatiran akan militerisasi dalam kehidupan sipil.

Argumen Rocky dan Respon Feri

Dalam perdebatan tersebut, Rocky Gerung berpendapat bahwa keterlibatan tentara dalam kegiatan menanam jagung tidak serta merta dapat dianggap sebagai militerisasi. Ia bahkan menciptakan istilah "jagungisasi tentara" untuk menggambarkan situasi di mana prajurit lebih banyak terlibat dalam aktivitas pertanian. “Kalau kita takut militerisasi, biarkan tentara nanem jagung, supaya dia sibuk cari bibit lupa cari mesiu, lupa memanggul senjata,” ujar Rocky. Ia berpendapat bahwa keterlibatan tentara dalam pertanian justru bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda, di mana prajurit yang sibuk dengan bibit dan tanaman jagung dianggap semakin jauh dari aktivitas yang berhubungan dengan senjata.

Namun, Feri Amsari menanggapi argumen Rocky dengan menyatakan bahwa pandangannya mengandung kesesatan berpikir. Feri menekankan bahwa tugas utama tentara tetap berkaitan dengan pertahanan negara. “Tapi itu logica fallacy, karena tugasnya kan menjaga pertahanan,” kata Feri. Ia juga menyoroti potensi masalah yang dapat timbul ketika aparat militer terlibat langsung dalam aktivitas yang berkaitan dengan masyarakat sipil, termasuk di sektor pertanian. “Orang yang bekerja untuk pertahanan abang dayagunakan jadi petani. Cerita aneh, masa tentara tidak bisa memanggul senjata karena sibuk menanam jagung,” tambahnya.

Kritik Laode terhadap Konsistensi Rocky

Perdebatan ini kemudian meluas ketika Feri mengkritik cara pandang Rocky terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Feri merasa logika Rocky berubah ketika membahas kebijakan yang berkaitan dengan Prabowo. “Menurut saya, abang menyalahi logika utama tentang susunan fondasi bernegara, abang kalau cerita soal Prabowo logikanya tiba-tiba jadi kacau begini,” ungkap Feri. Pernyataan ini menjadi salah satu konteks munculnya sindiran dari Laode M Syarif.

Laode tidak menjelaskan secara rinci bagian mana dari argumen Rocky yang membuatnya merasa pengamat politik tersebut kehilangan konsistensi. Namun, unggahannya mengisyaratkan kritik terhadap perubahan sikap Rocky, yang selama ini dikenal sebagai pengkritik kebijakan pemerintah.

Istilah "dungu" yang digunakan Laode juga memiliki makna tersendiri dalam konteks perdebatan publik. Rocky sering menggunakan istilah tersebut untuk mengkritik cara berpikir atau argumen seseorang, lebih mengarah pada kualitas penalaran daripada serangan pribadi. Dengan demikian, penggunaan istilah tersebut oleh Laode dapat dipahami sebagai sindiran terhadap konsistensi pemikiran Rocky dalam menghadapi isu politik dan kebijakan pemerintah.

Perdebatan mengenai keterlibatan tentara dalam program penanaman jagung ini tidak hanya berfokus pada isu pertanian, tetapi juga menyentuh batasan keterlibatan militer dalam aktivitas sipil dan bagaimana kebijakan tersebut seharusnya dipahami dalam konteks fungsi pertahanan negara. Kritik dari Laode menambah dimensi baru pada diskusi ini: bukan hanya mengenai apakah tentara seharusnya terlibat dalam pertanian, tetapi juga tentang konsistensi argumen para pengamat saat menilai kebijakan pemerintah.

Artikel Terkait