Dalam dinamika politik yang berlangsung di Indonesia, PSI tiba-tiba menunjukkan peningkatan elektabilitas yang mencolok, bahkan berhasil menembus ambang batas parlemen. Fenomena ini bukan hanya sekadar angka survei, tetapi juga merupakan sinyal kuat bahwa peta politik sedang mengalami pergeseran. Hasil survei terbaru dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode 5–19 Juli 2026 menunjukkan bahwa elektabilitas PSI mencapai 4,1 persen, yang mengejutkan publik.
Heru Subagia, seorang pengamat politik dan ekonomi, menyampaikan penilaiannya mengenai situasi ini. Ia mencatat bahwa lonjakan elektabilitas PSI merupakan sebuah pencapaian yang patut diperhatikan, mengingat partai ini sebelumnya hanya berkisar di bawah 2 persen. Dalam survei tersebut, PSI menempati posisi kedelapan di antara partai-partai nasional. "Ketua Umum partai yang tergabung dalam koalisi pendukung Prabowo seharusnya merasa malu, karena elektabilitas partai mereka justru terpuruk di bawah 2 persen," ujarnya, merujuk pada Partai Amanat Nasional (PAN) yang dipimpin oleh Zulkifli Hasan.
Strategi Jokowi dan Dampaknya
Heru menegaskan bahwa kenaikan elektabilitas PSI bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari strategi politik yang cermat. "Perjalanan seorang Tukang Kayu, hasil dari strategi Jokowi yang lihai dalam memainkan panggung politik, telah menekan Prabowo dan sekaligus mengangkat Gibran," jelasnya. Dengan elektabilitas yang kini berada di atas 4 persen, PSI telah berhasil naik kelas dan memenuhi syarat untuk ambang batas parlemen.
Heru juga menyoroti bahwa alih-alih memperkuat posisi, koalisi pendukung Prabowo justru mengalami kompetisi internal yang menggerus ruang politik Gerindra. "Momentum yang diambil oleh Jokowi melalui PSI berhasil menciptakan citra baru yang lebih segar, menjadikan PSI sebagai alternatif di tengah stagnasi partai-partai koalisi," tambahnya.
Pergeseran Kekuasaan dalam Politik
Survei terbaru menunjukkan tren negatif bagi Gerindra, dengan tekanan politik terhadap Prabowo semakin terasa. "Kepemimpinan yang terdistorsi ini membuka celah bagi Jokowi dan Gibran untuk mengambil alih momentum," ungkap Heru. Ia menilai bahwa kemenangan elektoral sesungguhnya diraih oleh Gibran, yang secara langsung mengangkat citra PSI sebagai bagian dari kekuatan politik Jokowi.
Di tengah tekanan yang dihadapi Prabowo, Gibran muncul sebagai sosok yang mendapatkan keuntungan politik. Heru menekankan bahwa Jokowi tampaknya sedang menyiapkan panggung besar bagi putranya, menjadikan PSI sebagai kendaraan politik yang strategis untuk jangka panjang. "Apa yang terjadi saat ini adalah integrasi politik yang unik, di mana Prabowo dan Gibran tampak bekerja sama, namun sebenarnya Jokowi sedang menerapkan strategi dari atas," jelasnya.
Heru Subagia menyimpulkan bahwa kenaikan elektabilitas PSI yang pesat menunjukkan bahwa kerja politik Jokowi semakin nyata dan agresif. "Ini adalah bentuk kudeta politik yang perlahan menggerogoti kekuasaan Prabowo dan mengancam stabilitas koalisinya," tutupnya.