Update
Kenapa Setiap Negara yang Ingin Mandiri Selalu Menghadapi Tekanan? Belajar dari Soekarno hingga Prabowo Rahasia Pola yang Terus Diperdebatkan: Benarkah Kemandirian Ekonomi Indonesia Selalu Menghadapi Tekanan Asing? Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Kenapa Setiap Negara yang Ingin Mandiri Selalu Menghadapi Tekanan? Belajar dari Soekarno hingga Prabowo Rahasia Pola yang Terus Diperdebatkan: Benarkah Kemandirian Ekonomi Indonesia Selalu Menghadapi Tekanan Asing? Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh
Pendidikan

Kisah Inspiratif Htet Htet Hlaing, Mahasiswa Myanmar yang Menuntut Ilmu di Universitas Syiah Kuala

Htet Htet Hlaing, mahasiswa asal Myanmar, berbagi pengalaman positif selama studi di Universitas Syiah Kuala, Indonesia, yang memperkaya wawasan serta pengetahuannya.

Rimba Amarta 14 April 2026 18 pembaca zcampus.indozone.id zcampus.indozone.id
Kisah Inspiratif Htet Htet Hlaing, Mahasiswa Myanmar yang Menuntut Ilmu di Universitas Syiah Kuala
zcampus.indozone.id

Htet Htet Hlaing, seorang mahasiswa asal Myanmar, kini tengah menempuh pendidikan di Universitas Syiah Kuala (USK) di Aceh, Indonesia. Pengalaman yang dijalaninya selama studi di luar negeri ini membawanya kepada banyak kesempatan untuk mendapatkan ilmu dan berbagi budaya.

Berusia 22 tahun, Htet Htet menjelaskan bahwa ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Indonesia karena ketertarikan terhadap budaya yang beragam. "Saya ingin mendapatkan pengalaman baru dan belajar di lingkungan yang berbeda," ujarnya. Dengan semangat tersebut, ia memilih USK sebagai tempat untuk meraih gelar pendidikan tinggi dalam bidang yang diminatinya.

Pendidikan di USK memberikan banyak pengalaman positif bagi Htet Htet. Selama belajar di sana, ia merasa sangat diterima oleh komunitas kampus dan memperoleh banyak teman dari berbagai latar belakang. "Saya merasa terhubung dengan teman-teman internasional saya dan belajar banyak dari perbedaan budaya kami," tambahnya. Htet Htet juga menyebutkan bahwa dosen di USK sangat mendukung dan memberikan bimbingan yang diperlukan untuk membantu mahasiswanya berkembang.

Selain itu, Htet Htet aktif terlibat dalam berbagai kegiatan kampus dan organisasi kemahasiswaan. Menurutnya, keterlibatan dalam kegiatan tersebut sangat penting, tidak hanya untuk mengasah kemampuan diri tetapi juga untuk memperluas jaringan relasi. "Bergabung dengan organisasi membuat saya lebih percaya diri dan mengajarkan saya banyak hal tentang kepemimpinan dan kerja sama," jelasnya.

Dalam perjalanan studinya, Htet Htet menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam beradaptasi dengan bahasa dan sistem pendidikan yang berbeda. Namun, ia menganggap hal ini sebagai pengalaman berharga yang membentuk dirinya menjadi lebih matang. "Setiap tantangan adalah kesempatan untuk belajar dan tumbuh," tuturnya.

Harapan Htet Htet setelah menyelesaikan pendidikannya ialah untuk kembali ke Myanmar dan berkontribusi pada masyarakatnya. "Saya ingin menggunakan ilmu yang saya dapatkan untuk membantu meningkatkan kualitas pendidikan di negara saya," ucapnya dengan penuh harapan.

Secara keseluruhan, perjalanan Htet Htet Hlaing di Universitas Syiah Kuala tidak hanya membekalinya dengan pendidikan formal tetapi juga pengalaman berharga yang mempersiapkannya untuk masa depan. Dengan tekad dan semangat belajar yang kuat, ia berkomitmen untuk menjadi agen perubahan di negara asalnya. Pengalaman ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan lintas budaya dalam membangun jembatan pemahaman antarnegara.

Tags: Belum ada tag.

Artikel Terkait