Jakarta, CNN Indonesia -- Pandemi Covid-19 telah memaksa Zulhaida Sitanggang untuk merombak kehidupannya. Setelah mengalami pemotongan gaji sebagai guru, ia memutuskan untuk berhenti mengajar dan mencari sumber pendapatan baru dari rumah. Namun, perjalanan yang ia tempuh tidak berjalan mulus. Usaha awalnya dalam menjual tanaman secara online tidak berhasil dan terpaksa dihentikan.
Titik balik dalam hidupnya muncul dari komunitas alumni yang mengumpulkan barang-barang bekas untuk disalurkan sebagai bantuan kepada masyarakat yang terdampak pandemi. Dari tumpukan gelas dan piring retak yang tidak dapat dijual lagi, Zulhaida menemukan peluang yang tidak dilihat orang lain. Ia menghias barang-barang tersebut dengan tali dari kain bekas dan menjualnya secara daring, dengan sebagian hasil penjualannya disumbangkan untuk kegiatan amal.
Dua gelas hias pertamanya terjual seharga seratus ribu rupiah, yang menjadi awal dari rasa ingin tahunya untuk bereksperimen dengan bahan-bahan lain. Pengalamannya membawanya pada pembuatan rangkaian bunga dari kulit jagung yang ia lihat saat berkunjung ke rumah kerabat. Zulhaida belajar secara mandiri melalui video tutorial, sambil mengumpulkan kulit jagung bekas dari tempat sampah pasar tradisional.
Pembelajaran dan Dukungan dari Ahli
Meskipun percobaan pertamanya tidak sempurna, satu unggahan di media sosial berhasil menarik perhatian pembeli dan membuka jalan bagi usahanya. Seorang perajin senior kemudian memberikan bimbingan untuk memperbaiki teknik pengolahannya agar produk kerajinan yang dihasilkan lebih tahan lama dan tidak mudah berjamur.
Usaha yang dinamakan Aida Craft ini mulai dikenal melalui undangan pernikahan dan ulang tahun, di mana Zulhaida membagikan rangkaian bunganya sebagai hadiah sekaligus promosi. Usahanya juga menarik perhatian media lokal. Meskipun sempat merasa putus asa ketika karyanya diremehkan di beberapa pameran, Zulhaida tetap bertahan meski latar belakangnya sebagai sarjana dan mantan guru.
Dukungan PNM Mekaar dan Perkembangan Usaha
Ketekunan Zulhaida membawanya bergabung dengan jaringan Asosiasi Eksportir Handicraft Indonesia dan mengikuti program pembinaan UMKM selama tiga bulan, yang mengantarkannya meraih sertifikasi BNSP sebagai pelatih kerajinan tangan. Untuk mengembangkan usahanya, Zulhaida mendapatkan dukungan pembiayaan dari PNM Mekaar, yang ia ketahui melalui tetangga dan mulai dijalani sejak tahun 2024.
Data dari mitra binaan menunjukkan bahwa usaha kerajinan tangan Zulhaida kini mampu membuka lapangan kerja untuk dua karyawan dan omzet bulanannya pernah mencapai Rp5.000.000, jauh lebih tinggi dibandingkan penjualan pertamanya yang hanya Rp100.000. Menurut Zulhaida, dukungan dari PNM tidak hanya sebatas pembiayaan. Modal awal yang ia terima digunakan untuk membeli kebutuhan produksi dasar seperti pot dan lem, saat usahanya masih dalam tahap awal.
Program pemberdayaan dari PNM membantu perkembangan Aida Craft secara bertahap, mulai dari pendampingan hingga penguatan jejaring usaha. Zulhaida juga dilibatkan sebagai pemateri dalam kegiatan Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) bagi nasabah lain, berbagi keterampilan yang ia pelajari dari pengalaman sendiri.
"Bersama PNM Mekaar, saya belajar mengembangkan usaha, menambah penghasilan, dan memberi yang terbaik untuk keluarga. Semangat terus untuk semua perempuan hebat di luar sana," ungkap Zulhaida.
Pemimpin Cabang Medan, Muhammad Wazir, mengonfirmasi keterlibatan aktif Zulhaida dalam komunitas PNM. Ia menyatakan bahwa Zulhaida sering diminta untuk menjadi pemateri dalam kegiatan PKU bagi nasabah di wilayah binaannya. "Bu Aida sering kita ajak untuk jadi pemateri untuk kegiatan PKU buat nasabah lainnya," kata Muhammad Wazir.
Kindaris, Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero), menekankan bahwa kisah Zulhaida menunjukkan bahwa pembiayaan dari PNM bukan hanya sekadar bantuan modal, tetapi juga sebagai jalan bagi perempuan Indonesia untuk bangkit secara ekonomi. "PNM hadir bukan hanya untuk membiayai, tapi mendampingi hingga nasabah seperti Ibu Zulhaida bisa berbalik menjadi pemberdaya bagi sesama nasabah lainnya," jelasnya.
Zulhaida bahkan memperluas jangkauan pemberdayaannya hingga ke luar jaringan PNM. Permintaan untuk program pemberdayaan di kawasan pesisir yang tidak memiliki kulit jagung membawanya untuk menggunakan limbah plastik sebagai bahan baku baru. Hal ini membuatnya dikenal oleh Ikatan Pemulung Indonesia dan mengantarkannya melatih 175 ibu-ibu di Kota Medan, serta diundang oleh Bank Indonesia untuk mempelajari pengolahan limbah di Bali.
"Tidak ada yang mustahil ketika kita berusaha dan berdoa. Saya memulai dari sampah, tapi saya tidak pernah merasa hidup saya sampah, justru penuh berkah," kata Zulhaida.
Perjalanan Zulhaida kini memasuki fase baru. Di rumahnya yang juga berfungsi sebagai ruang pelatihan, ia tengah menyiapkan program kursus kerajinan bagi siapa saja yang ingin belajar, termasuk mereka yang tidak mampu membayar penuh, sebagai kelanjutan dari perjalanan yang dimulainya di masa pandemi.