Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa masalah kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan, telah berhasil diatasi dan kondisi pasokan kini kembali stabil. "Yang terjadi kemarin di Makassar alhamdulillah sudah bisa terurai dan sudah selesai. Saya sudah laporkan kepada Bapak Presiden," ungkap Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada hari Kamis.
Ia menambahkan bahwa secara keseluruhan, stok BBM di tingkat nasional masih dalam keadaan aman. Pemerintah telah menetapkan standar minimum kebutuhan nasional dalam rentang 18 hingga 20 hari. Menurut Bahlil, salah satu penyebab antrean BBM di Makassar adalah pergeseran konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi, yang terjadi seiring dengan meningkatnya harga minyak dunia yang kini telah melebihi 100 dolar AS per barel.
Pergeseran Konsumsi dan Dampaknya
"Kita tahu bahwa harga dunia sekarang kan tidak dalam kondisi baik-baik saja. Sekarang sudah mencapai 100 lebih, 100 dolar (AS) lebih per barel. Jadi pasti berdampak pada harga nasional, di mana harga subsidi kita tidak dinaikkan," jelasnya. Kondisi ini, menurut Bahlil, mendorong sebagian masyarakat yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi untuk beralih ke BBM subsidi.
Selain itu, Bahlil juga mengungkapkan bahwa ada temuan dari pihak kepolisian mengenai dugaan penyalahgunaan BBM subsidi yang menyebabkan antrean di beberapa lokasi. Ia menjelaskan bahwa terdapat kendaraan yang telah dimodifikasi dengan kapasitas tangki yang sangat besar, bahkan mencapai 700 liter hingga 1 ton, untuk menampung BBM.
Langkah Penertiban dan Pesan untuk Masyarakat
Bahlil menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar masalah ini segera ditangani. Pemerintah terus berkoordinasi dengan PT Pertamina (Persero) untuk mengimplementasikan kebijakan BBM di lapangan. "Arahannya harus segera kita tertibkan. Karena kita tahu bahwa pemerintah itu kan regulator. Implementasi di lapangan itu kan adalah Pertamina. Jadi saya melakukan koordinasi terus dengan Pertamina," kata Bahlil.
Ia juga mengingatkan masyarakat yang dianggap mampu secara ekonomi untuk tidak menggunakan BBM subsidi, karena bahan bakar tersebut seharusnya diperuntukkan bagi mereka yang berhak menerimanya. "Saudara-saudara kita yang mampu, yang memakai mobil bagus, ya tolonglah, subsidi ini kan untuk saudara-saudara kita yang berhak menerimanya," tutup Bahlil.