Teror Pesanan Fiktif Menyasar Alamat Tempat Tinggal
Penyanyi Kunto Aji membeberkan pengalaman tidak menyenangkan akibat keaktifannya menyuarakan keresahan publik di media sosial. Pelantun lagu Rehat tersebut mengaku menjadi korban teror yang diduga dilakukan oleh buzzer, di mana rumahnya mendadak dikirimi pesanan makanan dan minuman fiktif melalui layanan ojek online (ojol) senilai ratusan ribu rupiah.
Kunto Aji mengungkapkan bahwa serangan yang diterimanya tidak lagi sebatas rundungan komentar negatif atau pesan pribadi (direct message) di dunia maya, melainkan sudah merambah ke ranah kehidupan pribadi dan menyasar alamat kediamannya.
Insiden tersebut terjadi pada 2026, dipicu oleh salah satu unggahan kritisnya di media sosial yang mendadak viral dan menjadi perbincangan hangat publik.
“Aneh enggak masuk akal? Dikirimin Gojek enggak dibayar kali ya. Gojek makanan banyak banget gitu tiba-tiba di alamat rumah. Pada saat lagi ramenya satu cuit yang rame gitu tiba-tiba dikirimin yang belum dip (dibayar),” ungkap Kunto Aji saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Ia menyebutkan, dua pengemudi ojol tiba-tiba mendatangi kediamannya membawa pesanan makanan dan minuman senilai ratusan ribu rupiah yang belum diselesaikan pembayarannya.
Tak Gentar Hadapi Teror dan Tetap Vokal
Kendati teror pesanan fiktif tersebut menyasar alamat kediamannya, musisi asal Yogyakarta ini mengaku beruntung karena saat kejadian dirinya baru saja berpindah rumah. Kondisi tersebut membuatnya tidak berada di lokasi secara langsung saat dua pengemudi ojol tiba.
“Kebetulan saya baru pindah rumah. Jadi situasinya saya enggak tahu di rumah saya yang sebelah sana, jadi saya berpindah-pindah aja,” terangnya.
Meski demikian, Kunto Aji menegaskan sama sekali tidak gentar menghadapi intimidasi fisik maupun digital tersebut. Menurutnya, mendapat serangan dari buzzer merupakan salah satu konsekuensi yang harus dihadapi ketika seseorang berani mengemukakan pendapat secara terbuka di ruang publik.
Peristiwa ini sekaligus menyoroti dampak buruk aksi teror pesanan fiktif yang tidak hanya merugikan target serangan, tetapi juga secara langsung merugikan para pengemudi ojol yang terpaksa menanggung kerugian waktu dan materi akibat pesanan tanpa kepastian pembayaran.