Update
Rahasia Pola yang Terus Diperdebatkan: Benarkah Kemandirian Ekonomi Indonesia Selalu Menghadapi Tekanan Asing? Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia Rahasia Pola yang Terus Diperdebatkan: Benarkah Kemandirian Ekonomi Indonesia Selalu Menghadapi Tekanan Asing? Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia
Teknologi

Steam Klarifikasi Penilaian IGRS Diterbitkan oleh Kemkomdigi, Bukan Valve

Steam menegaskan bahwa penilaian IGRS yang bersangkutan berasal dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, bukan dari Valve, dalam menjawab isu yang beredar.

Aruna Sasmita 06 April 2026 10 pembaca suara.com suara.com

Steam, platform distribusi digital terkemuka, mengeluarkan pernyataan penting terkait dengan penilaian kategori IGRS (Indeks Game Rating Indonesia) yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkomdigi). Pernyataan ini disampaikan untuk mengklarifikasi peran Valve dalam proses penilaian yang telah memicu berbagai spekulasi di kalangan pengguna.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Selasa (tanggal tidak disebutkan), Steam menegaskan bahwa penilaian IGRS tersebut sepenuhnya berada di bawah kewenangan Kemkomdigi dan tidak ada keterlibatan langsung dari pihak Valve. Hal ini merespons sejumlah pertanyaan dan kekhawatiran yang muncul dari masyarakat terkait proses penilaian dan pengkategorian game yang berlaku di Indonesia.

Seorang perwakilan dari Steam mengatakan, "Kami ingin menekankan bahwa keputusan mengenai IGRS diambil oleh Kemkomdigi dan bukan oleh pihak kami. Valve tidak terlibat dalam penilaian ini." Pernyataan ini menunjukkan komitmen Steam untuk transparan dan jelas dalam menjelaskan posisi mereka mengenai kebijakan pemerintah terkait game.

Penyampaian informasi tersebut juga merupakan langkah untuk menenangkan kekhawatiran pengguna mengenai potensi pembatasan akses terhadap game tertentu di Indonesia. Pasalnya, beberapa gamer merasa bahwa penilaian yang ketat dapat membatasi pilihan mereka dalam menikmati konten hiburan digital.

Proses IGRS sendiri merupakan inisiatif pemerintah untuk memberikan panduan bagi konsumen terkait konten game yang beredar di Indonesia. Dengan adanya penilaian ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami kategori umur dan konten yang sesuai sebelum memutuskan untuk membeli atau memainkan sebuah game.

Kemkomdigi menjelaskan bahwa penilaian ini dilakukan berdasarkan beberapa kriteria, termasuk konten, tema, dan dampaknya terhadap penggunanya. "Kami berupaya melindungi generasi muda dari konten yang tidak sesuai dengan pendidikan dan norma yang berlaku di masyarakat," ungkap seorang pejabat dari Kemkomdigi.

Dengan adanya klarifikasi ini, diharapkan tidak ada lagi mispersepsi mengenai keterlibatan Valve dalam penilaian IGRS. Steam juga menegaskan pentingnya kerjasama antara penyedia konten dan pemerintah dalam menciptakan lingkungan digital yang aman dan mendidik bagi masyarakat.

Ke depan, perkembangan lebih lanjut mengenai IGRS dan kebijakan terkait game di Indonesia akan terus dipantau. Steam berkomitmen untuk menjaga komunikasi yang baik dengan pemerintah serta komunitas gamer agar bisa saling memahami dan beradaptasi dengan regulasi yang berlaku.

Tags: Belum ada tag.

Artikel Terkait