Update
Rahasia Pola yang Terus Diperdebatkan: Benarkah Kemandirian Ekonomi Indonesia Selalu Menghadapi Tekanan Asing? Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia Rahasia Pola yang Terus Diperdebatkan: Benarkah Kemandirian Ekonomi Indonesia Selalu Menghadapi Tekanan Asing? Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia
Pendidikan

Universitas Brawijaya Melatih Mahasiswa Sebagai Konselor Sebaya untuk Mengatasi Masalah Kesehatan Mental

Universitas Brawijaya menginisiasi pelatihan bagi mahasiswa agar dapat berperan sebagai konselor sebaya, guna mendukung penanganan isu kesehatan mental di kalangan generasi muda.

Kalula Putri 12 April 2026 17 pembaca zcampus.indozone.id zcampus.indozone.id
Universitas Brawijaya Melatih Mahasiswa Sebagai Konselor Sebaya untuk Mengatasi Masalah Kesehatan Mental
zcampus.indozone.id

Universitas Brawijaya telah mengambil langkah signifikan dalam bidang kesehatan mental dengan melatih mahasiswa untuk berfungsi sebagai konselor sebaya. Inisiatif ini bertujuan untuk menangani masalah kesehatan mental yang semakin mendesak, khususnya di kalangan mahasiswa dan generasi muda saat ini. Dalam pelatihan ini, para peserta dibekali dengan berbagai keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk memberikan dukungan kepada rekan-rekannya.

Pelatihan ini melibatkan berbagai metode, termasuk sesi teori dan praktik yang dinamis. “Kami ingin mahasiswa memiliki kemampuan untuk mengenali dan memahami tantangan kesehatan mental yang mungkin dihadapi oleh teman-teman mereka,” jelas salah satu pengajar dalam program ini. Dengan demikian, para konselor sebaya diharapkan mampu memberikan dukungan emosional yang efektif serta memfasilitasi akses ke layanan profesional jika diperlukan.

Dalam pelatihannya, peserta mempelajari berbagai topik, mulai dari teknik komunikasi yang baik hingga cara mendukung individu yang mengalami masalah kesehatan mental seperti kecemasan atau depresi. “Kami menyadari bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Mahasiswa sering menghadapi tekanan yang berat, sehingga dukungan antar teman sangat krusial,” kata seorang mahasiswa yang terlibat dalam program ini.

Universitas Brawijaya juga menggandeng beberapa ahli psikologi untuk memastikan bahwa materi yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan saat ini. “Kami ingin memastikan bahwa konselor sebaya yang kami latih memiliki pengetahuan yang akurat dan terkini,” ungkap salah satu narasumber dari pihak universitas. Selama pelatihan, mahasiswa dibekali dengan keterampilan untuk mengenali gejala-gejala awal masalah mental dan cara merespons situasi darurat.

Program ini tidak hanya memberikan manfaat bagi mahasiswa yang terlatih, tetapi juga bagi seluruh komunitas kampus. Dengan adanya konselor sebaya, diharapkan mahasiswa yang membutuhkan bantuan dapat lebih mudah menjangkau sumber dukungan tanpa merasa tertekan atau stigma. Hal ini semakin penting mengingat bahwa stigma seputar isu kesehatan mental sering kali menghalangi individu untuk mencari bantuan yang mereka perlukan.

Ke depannya, Universitas Brawijaya merencanakan untuk memperluas program ini dengan mengadakan lebih banyak sesi pelatihan dan mengajak lebih banyak mahasiswa untuk berpartisipasi. “Kami berharap dengan langkah ini, kami dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung untuk kesehatan mental di kampus,” tutup seorang pejabat universitas. Dengan adanya inisiatif ini, langkah Universitas Brawijaya dapat menjadi contoh bagi institusi pendidikan lainnya dalam menangani isu-isu kesehatan mental di kalangan mahasiswa.

Tags: Belum ada tag.

Artikel Terkait