Update
Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia 28 Tahun Reformasi: Kritik Itu Perlu, Provokasi Itu Berbeda Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia 28 Tahun Reformasi: Kritik Itu Perlu, Provokasi Itu Berbeda
News

447 Resep Tradisional ala Serat Centhini Senjata Industri Kuliner Indonesia

Mabur.co – Di tengah gempuran makanan kekinian yang serba instan, manuskrip kuno Nusantara ternyata menyimpan “harta karun” kuliner yang belum banyak digali.  Salah satunya adalah Serat Centhini yang...

Yoga Samadhi 10 May 2026 16 pembaca mabur.co mabur.co
447 Resep Tradisional ala Serat Centhini Senjata Industri Kuliner Indonesia
Ilustrasi Serat Centhini (Foto: langgar.co)
Di tengah gempuran makanan kekinian yang serba instan, manuskrip kuno Nusantara ternyata menyimpan “harta karun” kuliner yang belum banyak digali. 

Salah satunya adalah Serat Centhini yang mencatat ratusan jenis makanan tradisional lengkap dengan fungsi sosial dan makna filosofisnya.

Peneliti Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) BRIN, Basori, mengungkapkan ada sedikitnya 447 jenis kuliner Nusantara yang tersimpan dalam Serat Centhini.

Tidak hanya membahas menu makanan utama, serat kuno ini juga mengulik ragam lauk-pauk, sambal, sayuran, minuman, hingga aneka kudapan tradisional.

“Dalam Serat Centhini tercatat setidaknya 447 jenis kuliner yang mencakup makanan utama, lauk-pauk, sayuran, sambal, hingga makanan ringan dan minuman,” ujar Basori dikutip situs resmi BRIN, Sabtu (9/5/2026).

Menurutnya, masyarakat Nusantara sejak dahulu ternyata telah memiliki sistem pengetahuan kuliner yang sangat terstruktur. 

Dalam manuskrip tersebut, makanan dikelompokkan secara sistematis mulai dari sego atau nasi sebagai makanan pokok, janganan untuk sayuran berkuah, ulam atau iwa sebagai lauk, hingga nyamian atau makanan ringan.

“Ini menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara sejak dahulu telah memiliki sistem pengetahuan kuliner yang kompleks dan terstruktur,” jelasnya.

Namun yang paling menarik, kuliner dalam tradisi Nusantara ternyata bukan sekadar urusan perut. Basori menjelaskan, makanan memiliki fungsi sosial yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa masa lalu.

Dalam tradisi tersebut, tamu tidak hanya disuguhi camilan, tetapi juga makanan utama yang disantap bersama tuan rumah. Makan bersama menjadi simbol penghormatan sekaligus perekat hubungan sosial antarindividu.

“Dalam tradisi Jawa, makanan menjadi bagian penting dalam relasi sosial, seperti menjamu tamu, gotong royong, hingga perayaan bersama,” katanya.

Tak hanya itu, hampir setiap fase kehidupan masyarakat juga memiliki makanan ritual tersendiri. Mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian, semuanya disertai sajian khas yang sarat makna simbolik.

Salah satu yang paling dikenal adalah tumpeng. Dalam manuskrip kuno itu disebutkan berbagai jenis tumpeng seperti tumpeng robyong dan tumpeng kendit yang digunakan dalam ritual syukuran maupun doa tertentu.

“Kuliner tradisional tidak hanya soal rasa, tetapi juga sarat makna filosofis,” ujar Basori.

Ia menilai kekayaan kuliner yang tersimpan dalam manuskrip Nusantara seperti Serat Centhini sebenarnya memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk modern bernilai ekonomi tinggi.

Yakni dengan menghidupkan kembali resep-resep tradisional tersebut dan menyesuaikannya dengan kebutuhan dan selera masyarakat masa kini.

Basori mencontohkan, beberapa pelaku usaha mulai mengembangkan produk berbasis manuskrip seperti tumpeng mini modern hingga menu kuliner yang merujuk langsung pada resep dalam Serat Centhini.

“Ini menunjukkan bahwa manuskrip dapat menjadi sumber inovasi yang nyata,” katanya.

Menurutnya, peluang terbesar justru berada pada pengembangan industri halal berbasis pangan tradisional. Sebab sebagian besar kuliner Nusantara menggunakan bahan alami yang lebih mudah ditelusuri kehalalannya dibanding produk olahan modern.

“Ini menjadi peluang besar dalam pengembangan industri halal berbasis kearifan lokal,” tambahnya.

Meski begitu, ia menegaskan pengembangan kuliner berbasis manuskrip membutuhkan riset berkelanjutan agar resep-resep kuno dapat diadaptasi menjadi produk yang memenuhi standar industri modern tanpa kehilangan identitas budayanya.

Di sisi lain, Basori juga mengingatkan pentingnya mengenalkan kembali makanan tradisional kepada generasi muda yang kini lebih akrab dengan burger, pizza, atau sushi dibanding pangan lokal.

“Warisan leluhur yang tertulis dalam manuskrip adalah aset besar. Jika dikelola dengan baik, ini bisa menjadi kekuatan Indonesia dalam industri halal global,” pungkasnya.

Artikel Terkait