JAKARTA - Sudah satu minggu berlalu sejak Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi signifikan pada Jumat, 4 September 2026. Setelah berlangsung selama sekitar 25 jam, kini muncul pertanyaan mengenai apakah aktivitas vulkanik di Selat Sunda itu akan segera berakhir. Namun, jawaban untuk pertanyaan tersebut masih belum dapat dipastikan.
Perubahan aktivitas Gunung Anak Krakatau terlihat jelas dibandingkan dengan fase awal erupsi. Setelah fase erupsi terus-menerus berakhir pada 6 September, aktivitas gunung api ini beralih ke erupsi yang terjadi secara berkala atau intermiten. Hal ini menunjukkan bahwa berakhirnya fase erupsi yang berkelanjutan tidak serta merta berarti bahwa seluruh rangkaian erupsi telah selesai.
Pemantauan Terus Berlanjut
Badan Geologi masih melakukan pemantauan terhadap aktivitas Anak Krakatau, karena gunung tersebut tetap menunjukkan tanda-tanda letusan meskipun episode erupsi utama telah mereda. Dalam laporan yang dirilis oleh Associated Press pada 9 September, terungkap bahwa Anak Krakatau masih mengalami erupsi secara intermiten, yang mengeluarkan lava, abu, dan material vulkanik pijar dari kawahnya.
Fase Erupsi yang Intens
Fase erupsi yang paling intens terjadi sejak 4 September, di mana Anak Krakatau mengalami erupsi terus-menerus selama kurang lebih 25 jam. Aktivitas ini menandai salah satu periode paling aktif dalam sejarah gunung berapi tersebut.