Budi Arie Setiadi, yang menjabat sebagai Ketua Umum Projo, mengangkat nama Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, saat membahas pentingnya kombinasi antara kepemimpinan yang populis dan teknokratis. Ia berpendapat bahwa pendekatan yang baik terhadap masyarakat merupakan salah satu kunci bagi seorang pemimpin untuk mendapatkan dukungan politik. Budi Arie menilai karakter populis Dedi Mulyadi terlihat jelas, terutama dalam cara komunikasinya yang akrab dengan rakyat. "Rakyat butuh populisme. Nah, itu kan didapat dari KDM," ungkap Budi Arie pada Jumat (11/9/2026).
Hubungan Dedi Mulyadi dan Jokowi
Lebih lanjut, Budi Arie juga menjelaskan adanya komunikasi dan hubungan antara Dedi Mulyadi dengan Presiden Joko Widodo. "Ya mereka ada hubungan dan komunikasi," katanya. Ia kemudian membandingkan gaya politik Dedi Mulyadi dengan Jokowi, menunjukkan bahwa keduanya memiliki kesamaan dalam pendekatan mereka terhadap masyarakat. "Dan kalau mau jujur langgamnya atau gayanya Pak Kang Deni Mul ini agak mirip-mirip Pak Jokowian, rakyat-rakyat bicara padanya, mendekati rakyat begitu loh," tambah Budi Arie.
Pujian yang Menarik Perhatian
Pernyataan Budi Arie tersebut menarik perhatian dari Adi Prayitno, seorang analis politik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia. Adi menilai pujian yang diberikan Budi Arie kepada Dedi Mulyadi memiliki makna politik yang signifikan. Ia berpendapat bahwa Budi Arie tidak sembarangan dalam memberikan penilaian positif kepada tokoh tertentu. "Makanya Budi Arie itu bilang KDM itu ya ini adalah Jokowi versi Jawa Barat. Itu kan nyata. Enggak gampang loh Budi Arie itu muji orang, Mang," kata Adi.
Menurut Adi, pernyataan tersebut dapat diinterpretasikan sebagai penggambaran Dedi Mulyadi sebagai sosok yang memiliki karakter politik populis dan dekat dengan masyarakat, mirip dengan citra politik Jokowi. Ia juga menambahkan bahwa sosok yang paling sering mendapat pujian dari Budi Arie adalah Jokowi. "Enggak gampang, Bang Budi itu yang dipuji cuma satu, Pak Jokowi," ujarnya.
Diskusi mengenai Dedi Mulyadi muncul dalam konteks kebutuhan akan figur yang mampu menggabungkan pendekatan populis dengan kapasitas teknokratis. Dalam hal ini, Dedi Mulyadi dianggap sebagai salah satu figur yang memiliki modal populisme berkat gaya komunikasinya yang dekat dengan masyarakat. Namun, pernyataan Budi Arie dan penafsiran Adi Prayitno belum dapat dianggap sebagai dukungan resmi untuk pencalonan politik tertentu. Penilaian "Jokowi versi Jawa Barat" merupakan sebuah interpretasi terhadap gaya kepemimpinan dan komunikasi politik Dedi Mulyadi.