Aktivis sosial Muhammad Said Didu kembali mengamati perkembangan politik yang melibatkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan keluarganya, yang ia nilai semakin menunjukkan intensitas. Ia mengaitkan fenomena ini dengan kemungkinan masa depan politik Gibran Rakabuming Raka, putra Jokowi, dan menekankan pentingnya hal ini untuk diperhatikan oleh Prabowo Subianto dalam konteks persaingan politik yang akan datang. “Seperti yang berkali-kali saya katakan bahwa sekarang sudah pada titik to Kill or to be killed,” ungkap Said Didu.
Said Didu secara eksplisit menyatakan bahwa Jokowi telah aktif mempersiapkan Gibran untuk melanjutkan karier politiknya, bahkan hingga ke posisi presiden. “Jokowi sudah terjun langsung persiapkan anaknya (Gibran) untuk jadi Presiden,” tegasnya.
Analisis Terhadap 'Geng SOP'
Menurut Said Didu, aktivitas politik yang dilakukan oleh keluarga Jokowi tidak bisa dipisahkan dari strategi kekuasaan untuk masa depan. Ia juga kembali menggunakan istilah 'Geng SOP' untuk menggambarkan kelompok yang memiliki agenda politik tertentu. “Geng SOP (Solo, Oligarki, Parcok) makin jelas arahnya,” tambahnya.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya keterlibatan Jokowi bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dalam beberapa kesempatan, Jokowi terlihat memberikan arahan kepada para kader partai tersebut.
Pesan Jokowi untuk Kader PSI
Sebelumnya, Jokowi mengingatkan kader PSI agar tidak cepat merasa puas dan terus memperkuat kerja politik di masyarakat. Pesan tersebut disampaikan saat Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) DPD PSI Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (1/8/2026). Di hadapan para kader, Jokowi menekankan bahwa target PSI tidak hanya terbatas pada perolehan kursi di parlemen. Ia menyebutkan adanya target yang lebih besar, meskipun tidak bersedia mengungkapkan secara rinci. "Target kita bukan hanya target masuk Senayan. Tapi ada target besar yang pingin kita capai. Tapi nggak usah disampaikan di sini," ujarnya.
Jokowi juga menekankan pentingnya membangun struktur partai hingga ke tingkat desa, yang dianggapnya sebagai modal penting bagi PSI dalam menghadapi dinamika politik ke depan. "Yang saya targetkan, dari DPRD sampai kepengurusan desa terbentuk dan inilah kekuatan besar Partai Gajah," tuturnya.
Selain itu, Jokowi meminta kader PSI untuk selalu dekat dengan masyarakat. Ia menekankan pentingnya mendengarkan keluhan warga dan mencari solusi atas masalah yang mereka hadapi. "Untuk seluruh kader dan pengurus, utamanya Kota Kupang, saya titip agar kita semuanya terus dan konsisten selalu berada di tengah-tengah rakyat, mendengar keluhan dan menyelesaikan masalah mereka," katanya.
Jokowi juga mengingatkan agar masalah yang dihadapi kader diselesaikan melalui struktur internal partai terlebih dahulu, sebelum meminta bantuannya. "Kalau bisa, selesaikan sendiri. Kalau nggak bisa disampaikan, minta bantuan kepada Ketua DPD. Kalau nggak bisa, minta bantuan kepada Ketua DPW. Kalau nggak bisa lagi, ke DPP," imbuhnya. Ia juga menekankan agar kader tidak menjadikan dirinya sebagai tujuan pertama saat menghadapi persoalan. "Kalau nggak bisa juga, ke Solo juga tidak apa-apa. Tapi jangan dikit-dikit ke Solo," tandasnya.
Pernyataan Jokowi mengenai penguatan struktur PSI ini menjadi sorotan dalam dinamika politik nasional. Sementara itu, pandangan Said Didu tentang persiapan Gibran menuju kursi presiden merupakan opini pribadinya dan bukan pernyataan resmi mengenai pencalonan Gibran.