Pernyataan Budi Arie Setiadi mengenai kemungkinan percepatan pergantian kekuasaan sebelum tahun 2029 terus menarik perhatian publik. Pengamat politik, Heru Subagia, berpendapat bahwa pernyataan tersebut mungkin tidak hanya berdasarkan insting politik semata.
Heru menduga bahwa baik Budi Arie maupun Presiden Jokowi telah mendapatkan gambaran mengenai hasil survei terkait tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebelum pernyataan itu disampaikan. Ia mengaitkan hal ini dengan hasil survei dari Tempo Data Science yang menunjukkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Prabowo-Gibran berada pada angka 37 persen.
Angka Kepuasan Publik yang Mengkhawatirkan
Heru menekankan bahwa angka kepuasan publik yang rendah tersebut patut menjadi perhatian, terutama karena muncul bersamaan dengan pernyataan Budi Arie tentang kemungkinan dinamika politik menuju pergantian kekuasaan. "Survei Tempo Data Science, bahwa kepuasan publik terhadap kinerja Prabowo-Gibran sangat rendah sekali, 37 persen," ungkap Heru.
Dia juga mengaitkan pernyataan Budi Arie yang disampaikan di hadapan Jokowi dan para relawan, di mana Budi Arie menyatakan bahwa instingnya menunjukkan bahwa perebutan kekuasaan bisa dimajukan dan tidak perlu menunggu hingga 2029.
Indikasi Data Survei yang Diketahui
Heru mencurigai bahwa pernyataan Budi Arie didasarkan pada informasi yang lebih kuat daripada sekadar membaca situasi politik. "Saya curiga sebenarnya Budi Arie dan termasuk Jokowi sudah mengetahui paparan lembaga survei," ujarnya. Menurutnya, informasi tersebut bisa menjadi pertimbangan dalam merumuskan strategi politik untuk keberlanjutan kekuasaan.
Dia menambahkan bahwa istilah 'insting' yang digunakan Budi Arie perlu ditelaah lebih dalam, karena keputusan politik mengenai percepatan pergantian kekuasaan seharusnya memiliki dasar yang jelas. "Insting Budi Arie ini tidak bisa berdiri sendiri tanpa sebuah akurasi data yang sebelumnya menjadi temuan," tegasnya.
Heru menilai pernyataan tersebut bisa diartikan sebagai respons terhadap perubahan persepsi publik terhadap pemerintahan saat ini. "Ini seolah menjadi sebuah cerminan khusus bagi Budi Arie melihat bahwa pergantian kekuasaan bisa dipercepat," tambahnya.
Dia juga berpendapat bahwa pernyataan Budi Arie menunjukkan adanya parameter tertentu yang digunakan sebelum menyampaikan pandangannya. "Budi Arie meyakinkan menurut saya bukan lagi sebuah insting, tapi parameter data yang saya duga sudah ada di tangannya dan Jokowi sendiri," katanya.
Heru juga menyoroti sikap Jokowi yang berada di lokasi saat Budi Arie menyampaikan pernyataannya. Ia berpendapat bahwa diamnya Jokowi tidak serta-merta berarti setuju. "Tafsiran saya Budi Arie dan Jokowi sudah menerima data," ungkapnya. Ia menegaskan bahwa Jokowi mungkin masih mempertimbangkan perkembangan tersebut sebelum mengambil sikap politik.
Heru menyimpulkan bahwa pernyataan Budi Arie dan sikap Jokowi perlu dianalisis dengan hati-hati dan tidak hanya dianggap sebagai wacana politik yang bersifat spontan. "Tidak serta-merta Budi Arie mengandalkan insting, demikian juga Jokowi diam dan sedang tidak mengiyakan," tutupnya.