JAKARTA - M. Arief Rosyid Hasan, seorang tokoh muda, merayakan usia 40 tahun melalui sebuah acara tasyakuran yang juga diisi dengan peluncuran buku dan diskusi bertema “Memimpin Rute Baru Politik Islam” di Menteng, Jakarta Pusat. Acara ini menjadi momen refleksi bagi Arief atas dua dekade pengabdiannya di bidang aktivisme, kaderisasi, dan politik, dengan dihadiri oleh cendekiawan muslim Fachry Ali serta Direktur Akademi Partai Golkar, Hajriyanto Y. Thohari.
Dalam sambutannya, Arief mengungkapkan rasa syukurnya, “Alhamdulillah, memasuki usia 40 tahun ini saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk terus belajar, berkarya, dan mengabdi. Dua puluh tahun lebih perjalanan di berbagai ruang kaderisasi dan politik mengajarkan saya bahwa perubahan tidak lahir secara instan. Ia membutuhkan proses, pengalaman, kompetisi, dan yang paling penting, kaderisasi yang terus-menerus.”
Refleksi dan Arah Pengabdian
Arief menilai usia 40 tahun sebagai momentum untuk meninjau kembali perjalanan hidupnya sekaligus menentukan arah pengabdian di masa depan. Ia menambahkan, “Perjalanannya tidak singkat, tetapi masih jauh lebih banyak yang dapat kita tuju bersama. Insyaallah, yang terpenting adalah bagaimana perjalanan berikutnya semakin luas manfaatnya bagi umat dan bangsa.”
Memulai karirnya dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hingga menjabat sebagai Ketua Umum PB HMI pada periode 2013–2015, Arief menekankan bahwa regenerasi kepemimpinan memerlukan pengalaman yang cukup, bukan hanya sekadar memberikan kesempatan. “Saya percaya demokrasi adalah kompetisi dan membutuhkan jam terbang. Orang muda tidak cukup hanya diberi ruang untuk bicara. Mereka harus memperoleh kesempatan untuk belajar, berproses, bertanding, menang, kalah, lalu kembali bertanding,” ujarnya.
Gagasan Rute Baru Politik Islam
Saat ini, Arief yang menjabat sebagai Sekretaris Akademi Partai Golkar dan Sekretaris Jenderal DPP AMPI, memperkenalkan gagasan "Rute Baru Politik Islam". Ia mendorong agar politik Islam beralih dari perdebatan identitas menuju fokus pada gagasan, kaderisasi, karya, dan kontribusi yang nyata. “Politik Islam harus hadir dengan wajah yang relevan dengan zaman. Pertanyaannya bukan hanya siapa yang kita wakili, tetapi apa yang kita perjuangkan, gagasan apa yang kita tawarkan, dan seberapa besar kekuasaan yang kita miliki dapat melahirkan karya, keadilan, dan kemaslahatan,” jelasnya.
Arief juga menekankan perlunya keterlibatan aktif generasi muda dalam politik untuk memastikan kekuasaan diarahkan dengan benar. “Rute baru politik Islam bukan tentang membawa Islam semakin dekat kepada kekuasaan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita membawa kekuasaan semakin dekat kepada amanah, keadilan, dan kemaslahatan rakyat,” tegasnya.
Fachry Ali, cendekiawan muslim, mengingatkan bahwa penting untuk tetap kritis ketika terlibat dalam kekuasaan. Ia mencontohkan integritas tokoh bangsa seperti Mohammad Hatta dan Prawoto Mangkusasmito. “Tantangan Arief dan generasinya bukan sekadar masuk ke dalam kekuasaan, tetapi bagaimana tetap memiliki daya kritis ketika sudah berada di dalamnya. Aktivis tidak boleh menjadikan partai hanya sebagai tangga kekuasaan. Dia harus membawa pikiran, nilai, dan agenda perubahan ke dalam institusi politik,” ungkap Fachry.
Sementara itu, Hajriyanto Y. Thohari berpendapat bahwa pembaruan politik Islam dapat dilakukan dari dalam institusi yang ada. Ia menyatakan, “Rute baru tidak selalu berarti pindah jalan. Bisa jadi tugas generasi sekarang adalah memperbarui jalan yang sudah ditempuh: melakukan pembaruan dari dalam partai, memperkuat kaderisasi, memperbarui gagasan, dan membuat politik kembali bekerja untuk kepentingan masyarakat. Di situlah relevansi rute baru politik Islam hari ini.”