Update
Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia 28 Tahun Reformasi: Kritik Itu Perlu, Provokasi Itu Berbeda Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia 28 Tahun Reformasi: Kritik Itu Perlu, Provokasi Itu Berbeda
News

Berkah Lebaran: Perjuangan Seorang Ayah Menghidupi Keluarga di Kampung Halaman

Masduki, seorang ayah, menantikan momen Lebaran di kampung halaman setelah bertahun-tahun mencari nafkah di jalan demi keluarganya.

Karim Abinaya 26 March 2026 17 pembaca liputan6.com liputan6.com
Berkah Lebaran: Perjuangan Seorang Ayah Menghidupi Keluarga di Kampung Halaman
liputan6.com

Masduki, seorang pria paruh baya yang telah menghabiskan belasan tahun mengais rezeki di jalan, mengenang kembali momen-momen Lebaran yang penuh haru. Ia hanya beberapa kali bisa merayakan hari raya Idul Fitri bersama keluarganya di kampung halaman. Momen ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sebuah harapan akan masa depan yang lebih baik untuk keluarganya.

“Saya seingat saya, baru beberapa kali bisa merayakan Lebaran di sini. Setiap tahun saya harus pergi jauh untuk mencari nafkah,” ungkap Masduki. Pernyataan ini mencerminkan pengorbanan yang dialami oleh banyak pekerja informal yang berjuang demi menyuplai kebutuhan sehari-hari keluarganya. Berdasarkan pengamatannya, tradisi pulang kampung saat Lebaran adalah hal yang sangat berarti bagi mereka yang merantau, meskipun terkendala oleh berbagai faktor, termasuk ekonomi dan waktu.

Lebaran bagi Masduki bukan hanya sekadar perayaan, tetapi merupakan momentum untuk berkumpul bersama keluarga dan merasakan kehangatan kasih sayang. Ia bercerita, “Setiap kali hari Lebaran tiba, hati ini sangat rindu untuk berkumpul dan berbagi kebahagiaan dengan anak dan istri. Namun, keadaan sering kali tidak memungkinkan.” Selain itu, penghasilan yang diperolehnya selama tahun-tahun sebelumnya sering kali terpaksa dikirimkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, sehingga mengurangi kesempatan untuk pulang kampung pada saat yang spesial ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, Masduki berusaha mengatur agar dapat pulang kampung dengan lebih baik. Ia mulai mempersiapkan diri jauh-jauh hari, menabung dan merencanakan perjalanan agar dapat merayakan Lebaran bersama orang-orang tercintanya. “Saya berharap, tahun ini bisa lebih baik. Saya ingin melihat senyuman keluarga saya saat merayakan Lebaran bersama,” tambahnya.

Pengorbanan yang dialami Masduki tampaknya menjadi refleksi bagi banyak orang di sekitarnya. Dapat dilihat dari angka pekerja informal yang terus meningkat, di mana banyak dari mereka bekerja di luar daerah demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Polisi setempat juga berdampak pada situasi ini, menyarankan agar masyarakat merayakan Lebaran dengan tetap memperhatikan keselamatan dan ketertiban. “Kami mendukung semua warga yang ingin merayakan Lebaran dengan aman dan nyaman,” kata perwakilan dari kepolisian setempat.

Dengan segala perjuangan dan pengorbanan, Masduki berharap momen Lebaran bukanlah sekadar rutinitas, melainkan saat untuk merenungkan kembali makna keluarga dan kebersamaan. Keluarganya adalah kekuatan yang selalu memotivasi dia untuk terus berjuang, meskipun keberadaan fisiknya sering kali jauh dari mereka.

Sebagai penutup, Masduki mengingatkan kita semua untuk tidak melupakan arti kebersamaan di dalam keluarga. Selama perjalanan hidupnya sebagai pencari nafkah, ia akan terus berusaha agar momen-momen spesial seperti Lebaran dapat dinikmati bersama keluarganya. Ke depannya, dia berharap agar masyarakat lebih menghargai setiap momen yang mereka miliki bersama orang-orang tercinta.

Tags: Belum ada tag.

Artikel Terkait