Update
Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia 28 Tahun Reformasi: Kritik Itu Perlu, Provokasi Itu Berbeda Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia 28 Tahun Reformasi: Kritik Itu Perlu, Provokasi Itu Berbeda
News

BGN Sementara Hentikan Operasional 1.528 Dapur MBG Karena Tidak Miliki Sertifikasi Laik Higiene

Badan Gizi Nasional (BGN) telah menghentikan sementara 1.528 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak memenuhi standar sertifikasi Laik Higiene.

Arya Yudhistira 26 March 2026 17 pembaca news.espos.id news.espos.id
BGN Sementara Hentikan Operasional 1.528 Dapur MBG Karena Tidak Miliki Sertifikasi Laik Higiene
news.espos.id

Badan Gizi Nasional (BGN) mengumumkan penghentian sementara operasional 1.528 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di bawah Program Makanan Bergizi (MBG) mulai Januari hingga 25 Maret 2026. Keputusan ini diambil terkait dengan ketidakpatuhan terhadap sertifikasi Laik Higiene yang menjadi salah satu syarat dasar dalam penyelenggaraan layanan gizi.

Pihak BGN menjelaskan bahwa penghentian ini merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa semua dapur yang menyediakan makanan bagi masyarakat memenuhi standar higienis yang telah ditetapkan. "Kami tidak bisa berkompromi dengan kesehatan masyarakat. Setiap fasilitas harus memenuhi standar untuk menjaga kualitas dan keselamatan makanan," ungkap seorang pejabat BGN yang meminta untuk tidak diidentifikasi. Keputusan tersebut diharapkan dapat mendorong pengelola dapur untuk lebih taat terhadap regulasi yang ada.

Penghentian operasional ini berdampak signifikan terhadap pelayanan gizi yang seharusnya diterima oleh masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil. BGN menekankan pentingnya sertifikasi Laik Higiene untuk menjamin bahwa makanan yang disajikan tidak hanya bergizi tetapi juga aman untuk dikonsumsi. "Kami ingin setiap orang yang menerima makanan dari dapur ini merasa aman dan terjamin kesehatannya," tambahnya.

Langkah ini tentu menjadi perhatian bagi masyarakat dan pengelola SPPG. Banyak yang merasa khawatir akan dampaknya terhadap pasokan gizi di wilayah masing-masing. Seorang pengelola dapur di Jakarta menyatakan, “Kami harus segera memenuhi syarat sertifikasi ini agar operasional kami tidak terhenti. Ini merupakan tanggung jawab kami untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat.”

Menurut data BGN, sebanyak 1.528 SPPG yang dihentikan operasionalnya tersebar di berbagai daerah, mencerminkan perlunya pengawasan yang lebih ketat terhadap penyelenggaraan layanan makanan. Ini juga menunjukkan tantangan dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan pentingnya higienitas dalam penyediaan makanan di berbagai fasilitas.

Kedepannya, BGN berencana mengadakan program pendampingan dan pelatihan bagi pengelola dapur yang terpaksa menghentikan operasional mereka. Langkah ini diharapkan bisa mempercepat proses sertifikasi dan memungkinkan mereka untuk kembali beroperasi dengan mematuhi standar yang ditetapkan. “Kami berkomitmen untuk membantu mereka untuk kembali beroperasi secepat mungkin, asalkan semua syarat terpenuhi,” jelas BGN.

Dengan demikian, meskipun tata kelola pelayanan gizi mengalami gangguan sementara, upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pelayanan diharapkan dapat menghasilkan dampak positif bagi kesehatan masyarakat di masa depan.

Tags: Belum ada tag.

Artikel Terkait