Hasil survei terbaru yang dilakukan oleh Tempo Data Science mengenai elektabilitas tokoh politik menjelang Pemilu 2029 menarik perhatian pengamat politik Saidiman Ahmad. Dalam survei tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, atau yang akrab disapa KDM, berada di posisi teratas dengan perolehan suara 43 persen, sementara Presiden Prabowo Subianto berada jauh di belakang dengan 15 persen. Anies Baswedan dan Gibran Rakabuming Raka menyusul dengan masing-masing memperoleh 10 persen dan 6 persen.
KDM Unggul Signifikan atas Prabowo
Dalam simulasi calon presiden yang dilakukan oleh Tempo Data Science, Dedi Mulyadi tercatat mendapatkan dukungan suara yang signifikan. Prabowo Subianto, yang merupakan tokoh politik senior, tampak tertinggal jauh. Saidiman Ahmad menilai hasil ini mencerminkan tingkat penerimaan masyarakat terhadap figur-figur yang mulai diperhitungkan dalam kontestasi politik mendatang.
Dukungan dari Pemilih yang Puas
Saidiman juga mencatat bahwa temuan survei ini menunjukkan KDM tidak hanya mendapatkan dukungan dari masyarakat yang merasa tidak puas dengan kondisi saat ini. “Selain tentang elektabilitas KDM yang jauh melampaui Prabowo, temuan lebih detail survei Tempo Data Science ini juga lebih menarik,” ungkapnya. Ia menekankan bahwa KDM juga memperoleh dukungan dari kelompok masyarakat yang merasa puas dengan beberapa aspek pemerintahan.
Lebih lanjut, Saidiman mengamati bahwa responden yang mengaku puas terhadap kondisi pemerintahan juga lebih banyak memilih KDM dibandingkan Prabowo. “Mereka yang puas sekali pun juga lebih banyak memilih KDM dibanding Prabowo,” jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap KDM tidak hanya berasal dari kelompok yang kecewa dengan pemerintahan saat ini.
Dalam analisisnya, Saidiman menyimpulkan bahwa Prabowo kehilangan legitimasi di mata publik. “Prabowo kehilangan legitimasi,” tegasnya.
Survei yang dilakukan pada 31 Juli hingga 11 Agustus 2026 juga mengukur tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan, yang tercatat hanya 37 persen. Selain itu, 68 persen responden menilai kondisi ekonomi nasional sedang buruk. Temuan ini dapat menjelaskan mengapa figur alternatif seperti KDM mendapatkan dukungan yang cukup besar, terutama di tengah ketidakpuasan masyarakat terhadap berbagai aspek pemerintahan.
Namun, Saidiman menekankan bahwa keunggulan KDM tidak hanya terlihat di kalangan masyarakat yang tidak puas, melainkan juga dari mereka yang merasa puas, yang menjadi salah satu temuan menarik untuk dicermati.
Hasil survei ini memberikan gambaran tentang preferensi publik pada periode survei, namun tidak menjamin hasil Pemilu 2029. Dinamika politik masih dapat berubah seiring dengan perkembangan pemerintahan, kinerja para tokoh, serta pembentukan koalisi yang mungkin terjadi menjelang kontestasi politik mendatang.