TANGERANG — Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI mengajak Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) untuk mengambil peran yang lebih signifikan dalam memperkuat diplomasi parlemen Indonesia di kancah global. Anggota BKSAP DPR RI, Habib Aboe Bakar Alhabsyi, menyatakan bahwa kehadiran mereka di UMT bukan hanya untuk melakukan sosialisasi, tetapi juga untuk mengajak UMT berkolaborasi dalam berbagai inisiatif konkret.
Habib Aboe menjelaskan bahwa Tangerang memiliki posisi yang strategis sebagai kota industri dan sebagai pintu gerbang logistik serta penerbangan internasional, yang menjadikannya salah satu pusat pertumbuhan ekonomi. Hal ini menjadikan Tangerang sangat relevan dalam diskusi diplomasi Indonesia dengan negara-negara mitra.
“Ketika kami bertukar pikiran dengan anggota parlemen dari Uni Eropa atau negara-negara mitra G20, mereka tidak cuma tanya soal Jakarta,” ujarnya. Dia menambahkan bahwa isu-isu yang dibahas dalam forum internasional juga menyentuh aspek kesiapan industri hijau dan perlindungan tenaga kerja.
Pentingnya Riset Berbasis Bukti
Habib Aboe menekankan bahwa UMT dapat memberikan kontribusi melalui riset akademik yang berbasis bukti. “Nah, di sinilah peran UMT. Kami butuh riset berbasis bukti atau evidence-based research dari teman-teman akademisi UMT. Kasih kami data dan analisis riil dari lapangan,” jelasnya.
Menurutnya, data dan kajian akademik dari UMT akan menjadi modal penting bagi BKSAP dalam membela kepentingan Indonesia di forum internasional. “Biar saat BKSAP berdiplomasi di forum internasional, narasi yang kami bawa adalah narasi yang membela kepentingan industri dan masyarakat Tangerang,” tambahnya.
Pentingnya Jaringan Internasional Muhammadiyah
Habib Aboe juga menyoroti potensi besar dari jaringan internasional Muhammadiyah sebagai kekuatan soft power bagi Indonesia. “Kita tahu betul, Muhammadiyah punya jaringan global yang luar biasa. Punya cabang istimewa di berbagai negara, punya lembaga kemanusiaan yang aktif di daerah konflik, sampai universitas di luar negeri. Ini adalah soft-power yang sangat mahal harganya,” tuturnya.
Dia menambahkan bahwa jejaring internasional Muhammadiyah dapat memperkuat posisi moral diplomasi Indonesia, terutama dalam isu-isu kemanusiaan yang mendapat perhatian global. “Ketika BKSAP memperjuangkan isu-isu kemanusiaan—seperti isu Palestina atau pengungsi Rohingya di forum IPU dan AIPA—kehadiran jejaring kemanusiaan Muhammadiyah memberi bobot moral yang amat kuat bagi diplomasi Indonesia,” jelasnya.
Habib Aboe mengajak mahasiswa dan civitas akademika UMT untuk memandang kampus sebagai lebih dari sekadar tempat belajar, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang dapat berkontribusi pada diplomasi Indonesia. “Teman-teman mahasiswa dan dosen di UMT harus bangga, karena Anda berada di dalam ekosistem yang punya pengaruh global tersebut,” katanya.
Dia percaya bahwa gagasan mengenai keadilan global dan kesejahteraan rakyat dapat muncul dari lingkungan akademik, termasuk dari ruang-ruang kelas di UMT. Habib Aboe pun mengajak UMT untuk bersama-sama memperkuat kontribusi akademik dan intelektual bagi diplomasi Indonesia. “Mari kita buktikan, dari UMT Tangerang, kita warnai diplomasi Indonesia untuk dunia,” tutupnya.