Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia mengungkapkan bahwa pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) merupakan langkah krusial untuk menjaga ketahanan energi nasional. Hal ini dianggap penting agar Indonesia dapat sejajar dengan negara-negara maju yang memanfaatkan energi nuklir untuk tujuan damai.
Managing Director Industrialization Danantara Indonesia, Ardy Muawin, menyatakan, "Yang pertama jelas ketahanan energi, karena PLTN atau nuclear power plant hampir semua negara maju itu, untuk kebutuhan perdamaian atau peace. Bahkan negara seperti Uni Emirat Arab sebagai negara yang kaya minyak sudah memiliki nuclear power plant." Pernyataan ini disampaikan dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada hari Selasa.
Pentingnya Transfer Teknologi
Ardy menambahkan bahwa salah satu aspek terpenting terkait PLTN adalah transfer teknologi. Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi operator atau pengguna dari nuclear power plant, tetapi juga dapat menguasai keahlian dalam pengoperasian pembangkit tersebut. "Tadi sudah disampaikan, dulu Amerika Serikat kirim ke Korea Selatan, Korea Selatan bisa mengembangkan versi terbarunya. Indonesia sendiri sudah punya reaktor nuklir pada tahun 1960-an, sebenarnya cita-cita itu sudah ada. Danantara nanti kami bisa menjadi orkestrator setelah regulasinya ada dan pemerintah sudah memutuskan langkah ke depannya," ujarnya.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), PLTN telah menjadi salah satu target. Danantara kini menunggu keputusan pemerintah mengenai nuclear power plant tersebut. "Begitu ada keputusan dari pemerintah tentunya Danantara memiliki ekosistem. Dari off-taker ada PLN, terus kemudian nanti PLN juga bisa yang mendistribusikan. Tentunya nanti kita juga bisa koordinasi dengan BRIN atau instansi terkait yang memang bidang ini. Jadi kami bisa dari sisi nanti orkestrasi keseluruhan dan juga nanti ke depannya pembiayaan dan juga kemitraan," jelas Ardy.
Dampak PLTN terhadap Industri Lain
Lebih lanjut, Ardy menjelaskan bahwa PLTN juga dapat menjadi pendorong untuk teknologi-teknologi turunan, mengingat banyak industri yang berhubungan dengan teknologi nuklir, termasuk sektor kesehatan. "Jadi bukan hanya terkait dengan listriknya, tapi transfer teknologi dan industri yang berkembang karena penguasaan teknologi nuklir itu sendiri," tambahnya.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Sripeni Inten Cahyani, mengungkapkan bahwa energi nuklir berpotensi menjadi "kuda hitam" dalam mempercepat proses dekarbonisasi dan pencapaian target netralitas karbon di Indonesia. Program pengembangan energi nuklir semakin relevan, mengingat kebutuhan Indonesia akan sumber energi yang dapat memenuhi permintaan industri dan masyarakat serta mendukung pengurangan emisi karbon.
Sripeni menambahkan bahwa beberapa negara di kawasan ASEAN telah memasukkan energi nuklir sebagai bagian dari strategi energi jangka panjang. Malaysia dan Filipina direncanakan mulai mengembangkan proyek energi nuklir pada tahun 2031, sedangkan Vietnam menargetkan pada rentang waktu 2031 hingga 2035. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi yang kuat dalam pengembangan teknologi nuklir untuk energi, baik dari segi sumber daya manusia maupun fasilitas penelitian.
Indonesia memiliki program pendidikan nuklir di Universitas Gadjah Mada (UGM), dan fasilitas reaktor nuklir di Serpong, Banten, memiliki kapasitas sekitar 30 megawatt untuk kepentingan penelitian. Sripeni juga menyampaikan bahwa program pengembangan nuklir saat ini sudah memiliki arah yang jelas melalui identifikasi lokasi dan masuknya rencana pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN untuk periode 2025 hingga 2034.