Update
Demo BEM UI dan Stabilitas Ekonomi: Kritik, Dampak, dan Pertanyaan soal Arah Gerakan Mahasiswa Siswa di Bogor Diduga Keracunan Setelah Mengonsumsi Sate dari Makan Bergizi Gratis Gubernur Herman Deru Minta Pengawasan Ketat untuk Bantuan Penanganan Karhutla 5G: Pondasi untuk Masa Depan yang Siap Digital, Mendukung AI dan Produktivitas Langkah Pemerintah Menjaga Ketersediaan dan Stabilitas Harga Pangan Menjelang Nataru Pembangunan PLTN Dinilai Penting untuk Ketahanan Energi Indonesia IHSG Turun Hampir 2 Persen ke Level 5.266, 611 Saham Mengalami Penurunan Ribuan Akademisi Desak Gibran Mundur, Menurut Connie Bakrie Telkom University Mendorong Partisipasi Publik dalam Pencarian Maisha Aurelia Rafif Peningkatan Penggunaan AI di Kalangan UMKM Indonesia Mencapai 36,8 Persen Demo BEM UI dan Stabilitas Ekonomi: Kritik, Dampak, dan Pertanyaan soal Arah Gerakan Mahasiswa Siswa di Bogor Diduga Keracunan Setelah Mengonsumsi Sate dari Makan Bergizi Gratis Gubernur Herman Deru Minta Pengawasan Ketat untuk Bantuan Penanganan Karhutla 5G: Pondasi untuk Masa Depan yang Siap Digital, Mendukung AI dan Produktivitas Langkah Pemerintah Menjaga Ketersediaan dan Stabilitas Harga Pangan Menjelang Nataru Pembangunan PLTN Dinilai Penting untuk Ketahanan Energi Indonesia IHSG Turun Hampir 2 Persen ke Level 5.266, 611 Saham Mengalami Penurunan Ribuan Akademisi Desak Gibran Mundur, Menurut Connie Bakrie Telkom University Mendorong Partisipasi Publik dalam Pencarian Maisha Aurelia Rafif Peningkatan Penggunaan AI di Kalangan UMKM Indonesia Mencapai 36,8 Persen
Ekonomi

Forum Keberlanjutan Internasional 2026 Diharapkan Mendorong Ekonomi Hijau Global

Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 akan berlangsung pada 6-7 Oktober di Jakarta, mengumpulkan berbagai pemimpin untuk membahas pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Aruna Sasmita 03 October 2026 53 pembaca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
Penyelenggaraan ISF 2025. (Foto: ISF 2026)
Penyelenggaraan ISF 2025. (Foto: ISF 2026)

Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 dijadwalkan berlangsung pada 6-7 Oktober di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta dengan tema "Investing for a Resilient, Sustainable, and Prosperous World". Forum ini memasuki tahun keempat penyelenggaraan dan bertujuan untuk mempertemukan para pemimpin pemerintahan, pelaku bisnis, investor, lembaga keuangan, akademisi, dan organisasi internasional untuk mendiskusikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, inovasi, teknologi, dan pendanaan demi masa depan yang lebih tangguh dan sejahtera.

Sejumlah tokoh penting dari berbagai belahan dunia akan hadir, termasuk Wakil Sekretaris Jenderal sekaligus Sekretaris Eksekutif UNESCAP, Armida Salsiah Alisjahbana; Utusan Khusus Presiden RI untuk Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo; serta Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Anindya Bakrie, bersama dengan banyak pemimpin perusahaan dan pengambil kebijakan global lainnya.

Fokus Pembahasan ISF 2026

Forum ini lahir dari semangat bersama yang dimiliki Indonesia dan negara-negara lain untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sambil mempercepat transisi menuju rendah karbon, memperkuat ketahanan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Melalui ISF, Indonesia berupaya untuk menjadi pusat penting dalam diskusi global mengenai masa depan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Pembahasan dalam forum ini akan terbagi menjadi dua tema besar yang saling melengkapi. Pada hari pertama, tema yang diangkat adalah "Powering Low-Carbon Growth", yang akan membahas sektor-sektor strategis yang menjadi pendorong pertumbuhan rendah karbon. Sedangkan pada hari kedua, tema "Enabling a Resilient & Liveable Future" akan menyoroti berbagai faktor yang mendukung fondasi pertumbuhan yang inklusif dan tangguh.

Pentingnya Agenda Keberlanjutan

Ketua Pelaksana ISF 2026, Rachmat Kaimuddin, menyatakan bahwa konsistensi dalam menjaga agenda keberlanjutan kini menjadi semakin penting di tengah dinamika global yang terus berubah. "Di tengah perubahan arah dan dinamika global, menjaga konsistensi agenda keberlanjutan menjadi semakin penting. Bagi Indonesia, tantangannya adalah bagaimana menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mendorong transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan," jelas Rachmat.

Dia juga menekankan bahwa pertumbuhan hijau seharusnya dianggap sebagai bagian integral dari strategi pembangunan, bukan sekadar agenda tambahan. "Kami melihat pertumbuhan hijau perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan untuk memperkuat ketahanan ekonomi, membuka peluang baru, dan menciptakan nilai jangka panjang bagi masyarakat. Berangkat dari kepentingan nasional justru dapat membuat agenda keberlanjutan lebih relevan, berkelanjutan, dan membuka ruang kolaborasi global," tambahnya.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Keberlanjutan Kadin Indonesia, Shinta Kamdani. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan kini menjadi bagian dari strategi pertumbuhan dan daya saing dunia usaha. "Sustainability semakin menjadi bagian dari bagaimana dunia usaha melihat pertumbuhan, daya saing, dan peluang di masa depan. Bagi perusahaan, transisi ini membuka ruang untuk berinovasi, menciptakan nilai, dan membangun daya saing jangka panjang," ungkap Shinta.

Rachmat menambahkan bahwa forum ini dirancang sebagai tempat untuk bertukar pengalaman lintas sektor dan mengeksplorasi solusi yang dapat diterapkan. "ISF 2026 membuka ruang bagi pemerintah, dunia usaha, investor, dan berbagai pemangku kepentingan untuk bertukar pengalaman, melihat tantangan dari berbagai perspektif, dan mengeksplorasi solusi yang dapat diterapkan," ujarnya.

ISF 2026 akan menghadirkan lebih dari 200 pembicara internasional dalam berbagai sesi plenary dan tematik, yang mewakili pemerintah, organisasi internasional, dunia usaha, lembaga keuangan, akademisi, dan institusi global lainnya. Beberapa nama yang telah dikonfirmasi antara lain Sigit Puji Santosa (CTO Danantara Indonesia), Helen Clarkson OBE (CEO The Climate Group), Justin Ma (Head of Transition Finance & Advisory ASEAN and South Asia, Standard Chartered Bank), dan lainnya.

Secara keseluruhan, forum ini akan menggelar lebih dari 20 sesi dan diperkirakan akan dihadiri oleh ribuan peserta dari kalangan pemerintah, dunia usaha, akademisi, think tank, investor, serta organisasi filantropi. Sejak pertama kali diadakan pada tahun 2023, ISF telah berkembang sebagai platform penting yang mempertemukan kepala negara, pelaku bisnis, investor, lembaga internasional, dan akademisi.

ISF 2023 mencatat lebih dari 2.000 peserta dari lebih dari 40 negara, sementara ISF 2024 dan 2025 masing-masing dihadiri lebih dari 11.000 dan 10.000 peserta, dengan lebih dari 100 pembicara di setiap penyelenggaraan. Dari berbagai pertemuan tersebut, lebih dari 30 nota kesepahaman (MoU) di bidang transisi energi berhasil difasilitasi. Capaian ini menjadi modal bagi ISF 2026 untuk memperluas ruang kolaborasi dan memperkuat keterkaitan antara agenda keberlanjutan, pertumbuhan ekonomi, dan ketahanan nasional.

ISF 2026 terbuka untuk masyarakat umum, pelaku usaha, akademisi, media, investor, dan pemangku kepentingan lainnya. Pendaftaran dapat dilakukan melalui situs resmi Indonesia International Sustainability Forum hingga 5 Oktober 2026.

Artikel Terkait