Polemik mengenai penganugerahan gelar Sesepuh Raja-Raja Timur kepada Joko Widodo, Presiden ke-7 Republik Indonesia, di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus memicu berbagai tanggapan. Fritz Alor Boy, selaku Ketua Umum Perkumpulan Anak Jokowi (PAJO), menilai kritik yang muncul disebabkan oleh kesalahpahaman terhadap makna gelar yang diterima oleh Jokowi.
Fritz menegaskan bahwa gelar yang diberikan kepada Jokowi bukanlah gelar raja, melainkan Sesepuh Raja-Raja Timur. Ia meminta masyarakat untuk tidak terjebak dalam narasi yang menurutnya telah dibangun sebelum acara penganugerahan berlangsung. "Ada oknum-oknum tertentu yang sampai di titik ini masih mengkomplen soal pemberian atau nobatan sesepuh Raja-Raja Timur di NTT," ujarnya.
Menanggapi Isu yang Beredar
Fritz merasa heran dengan anggapan bahwa Jokowi dinobatkan sebagai raja. "Saya mau ketawa takut salah. Tapi saya perlu kasih tahu ke Anda bahwa Pak Jokowi dinobatan sebagai sesepuh Raja-Raja Timur di NTT bukan lainnya," jelasnya. Ia menekankan bahwa penyebutan Jokowi sebagai raja merupakan framing yang tidak sesuai dengan kenyataan. "Jadi jangan framing. Tidak ada istilah pemberian atau nobatan raja. Itu hanyalah oknum-oknum tertentunya memain sebelum terjadi hal itu," tambahnya.
Lebih lanjut, Fritz berpendapat bahwa isu mengenai penobatan Jokowi sebagai Raja-Raja Timur telah lebih dulu dimainkan sebelum acara berlangsung. Ia beranggapan bahwa narasi tersebut sengaja diciptakan untuk membentuk opini negatif. "Jadi sebelum penobatan sesepuh Raja-Raja Timur di NTT ada oknum-oknum tertentunya sudah goreng isu Pak Jokowi akan dinobatkan sebagai Raja-raja Timur di NTT," ungkapnya. Ia juga menduga ada pihak-pihak tertentu yang tidak ingin Jokowi berkunjung ke NTT.
Gelar Sesepuh dan Nilai Kebangsaan
Fritz menegaskan bahwa gelar sesepuh yang diberikan kepada Jokowi tidak bertentangan dengan nilai kebangsaan maupun sistem ketatanegaraan Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Indonesia dibentuk dari kesepakatan berbagai kerajaan yang bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Tapi, sebetulnya Pak Jokowi dinobatkan sebagai sesepuh. Pahami dulu kata Sesepuh Raja Timur di NTT. Apakah salah? Tidak jadi masalah," ujarnya.
Menurut Fritz, Jokowi layak menerima gelar tersebut karena telah memimpin Indonesia selama dua periode sebagai presiden. Ia menambahkan bahwa sebagai kepala negara, Jokowi secara simbolis juga memimpin seluruh kerajaan adat di Indonesia. "Di Indonesia ini kan ada Raja A, Raja B bersatu menjadi Indonesia. Pemimpinnya adalah Presiden. Pak Jokowi pernah memimpin seluruh Raja-Raja yang ada di Indonesia ini," jelasnya.
Fritz menekankan bahwa tidak ada yang salah dengan penganugerahan gelar tersebut. "Maka itu, apakah salah? Tidak salah. Sesepuh dari Raja-raja, tidak ada masalah. Kenapa? Pak Jokowi dua kali memimpin seluruh Raja-Raja di Indonesia ini," terangnya. Ia juga menegaskan bahwa gelar tersebut bukanlah atas permintaan Jokowi. "Jadi kalau Ibu Megawati juga mau ya silakan. SBY juga mau ya silakan saja. Ya terserah siapapun itu terserah. Yang memberikan kepada Pak Jokowi juga bukan Pak Jokowi yang punya keinginan tapi kan masyarakat," tutupnya.