Pengamat politik Rocky Gerung kembali membahas Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, kali ini dengan mengungkapkan pengalaman pribadi terkait kunjungan Gibran ke rumahnya. Rocky menyatakan bahwa Gibran pernah datang dengan tujuan untuk mempelajari politik, dan pertemuan tersebut awalnya disepakati sebagai diskusi yang tidak untuk dipublikasikan.
Rocky mengungkapkan, "Dia datang ke rumah gue buat belajar politiklah. Ada dia pernah bilang tuh, 'Saya datang ke rumah Om Rocky buat belajar politik.' Padahal perjanjiannya jangan bocorin. Dibocorin," dalam sebuah tayangan di kanal YouTube Hendri Satrio Official pada Minggu, 6 September 2026. Pernyataan ini disampaikan Rocky saat mendiskusikan posisi Gibran dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada Senin, 20 Juli 2026.
Perubahan Posisi Gibran dalam Sidang Kabinet
Dalam sidang tersebut, perhatian publik tertuju pada susunan tempat duduk Gibran yang tidak berdampingan langsung dengan Presiden Prabowo Subianto. Gibran terlihat duduk di sisi kanan depan Presiden, sejajar dengan para menteri lainnya. Perubahan tata letak ini memunculkan berbagai interpretasi di masyarakat mengenai posisi politik Gibran dalam pemerintahan.
Rocky menilai perubahan tersebut dari sudut pandang politik dan mengemukakan spekulasi mengenai kemungkinan Gibran tidak ingin lagi menjabat sebagai wakil presiden. "Masa tanya pada Prabowo, tanya pada Gibran, 'Lu masih mau jadi wapres enggak?' Pasti dia bilang enggak," ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa posisi wakil presiden bukanlah tujuan akhir bagi Gibran, yang ia yakini ingin mencalonkan diri sebagai presiden.
Klarifikasi dari Istana
Pernyataan Rocky ini menempatkan Gibran dalam diskusi mengenai peta politik menjelang Pemilihan Presiden 2029. Namun, perlu dicatat bahwa tidak ada pernyataan resmi dari Gibran yang menyatakan keinginannya untuk maju sebagai calon presiden pada pemilu mendatang. Sementara itu, polemik mengenai posisi duduk Gibran dalam sidang sebelumnya telah dijelaskan oleh Istana.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan bahwa perubahan tata letak kursi tidak berkaitan dengan perubahan posisi politik atau hubungan antara Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran. Ia menjelaskan bahwa penataan tempat duduk dilakukan untuk kebutuhan teknis saat Presiden Prabowo menyampaikan paparan dalam sidang kabinet. "Kalau yang dipertanyakan adalah posisi dari Bapak Wakil Presiden, kalau menurut kami ini hanya masalah kebutuhan teknis semata, tidak ada hal-hal lain yang mungkin perlu dikhawatirkan," jelas Prasetyo.
Prasetyo menambahkan bahwa Presiden Prabowo menggunakan teleprompter untuk membantu penyampaian data mengenai program dan capaian kinerja Kabinet Merah Putih, sehingga posisinya harus berada di tengah. "Itu yang menyebabkan posisi Presiden berada di tengah-tengah," ungkapnya. Istana juga menegaskan bahwa perubahan posisi tidak menunjukkan adanya penurunan status atau ketidaksetaraan antara Presiden dan Wakil Presiden, dan hubungan keduanya tetap harmonis dalam menjalankan pemerintahan.
Dengan penjelasan resmi dari Istana, pengungkapan Rocky mengenai pertemuannya dengan Gibran kembali memicu perbincangan tentang komunikasi politik Wakil Presiden. Ucapan Rocky menambah spekulasi mengenai arah politik Gibran menjelang kontestasi politik 2029, meskipun hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Gibran mengenai pencalonan dirinya sebagai presiden di periode mendatang.