Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Dr. Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan pembuat kebijakan untuk menciptakan kebijakan publik yang didasarkan pada kajian ilmiah. Pernyataan ini disampaikan Ibas saat kunjungannya ke Herb Feith Centre di Monash University, Melbourne, Australia, pada Sabtu (17/10), dalam pertemuan dengan mahasiswa Indonesia, perwakilan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), serta sivitas akademika.
Perguruan Tinggi Sebagai Mitra Strategis
Ibas menyatakan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus berperan sebagai mitra strategis dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi bangsa. Ia menekankan pentingnya menghubungkan gagasan dan hasil penelitian dari lingkungan akademik dengan proses penyusunan kebijakan agar dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. “Negara membutuhkan pandangan dari para ahli, kampus. Saya berharap gagasan yang dihasilkan oleh mahasiswa, peneliti, dan akademisi dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata,” ungkap Ibas.
Potensi dan Tantangan Generasi Muda
Ibas berpendapat bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara maju, terutama dengan jumlah generasi muda yang banyak dan bonus demografi yang sedang berlangsung. Namun, ia mengingatkan bahwa potensi ini harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, pendidikan, inovasi, serta penciptaan lapangan kerja yang memadai. Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda, yang tidak hanya terbatas pada akses pendidikan, tetapi juga kesiapan untuk memasuki dunia kerja, biaya hidup, ketersediaan hunian, ketahanan pangan, dan kebutuhan energi. Oleh karena itu, pembangunan sumber daya manusia harus menjadi fokus utama dalam strategi jangka panjang bangsa.
Ibas berharap mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan pengalaman internasional, tetapi juga mampu membawa pulang gagasan, jaringan, dan inovasi yang bermanfaat bagi negara. Sebagai lulusan Curtin University di Australia, ia mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan pengalaman belajar di luar negeri sebagai bekal untuk berkontribusi kepada masyarakat dan memperkuat hubungan Indonesia dengan negara tempat mereka menempuh pendidikan.
Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak terjebak dalam persaingan individual. Menurutnya, kemajuan bangsa memerlukan persatuan, kolaborasi, dan kemampuan untuk mengelola perbedaan secara konstruktif. “Bangsa yang maju tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang memiliki pemikiran sama. Kita membutuhkan ruang dialog, pendalaman gagasan, dan diskusi yang sehat agar dapat menemukan solusi yang lebih baik bagi Indonesia,” tegas Ibas.