Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono, atau yang akrab disapa Ibas, mengungkapkan bahwa kepemimpinan yang memiliki visi dan berkelanjutan sangat diperlukan untuk memperkuat kolaborasi antara Indonesia dan Singapura serta menghadapi tantangan global. Pernyataan ini disampaikan Ibas dalam sebuah diskusi yang diadakan di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), Singapura pada Rabu, 7 Oktober.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Executive Deputy Chairman RSIS, Duta Besar Ong Keng Yong, serta para akademisi dan peneliti dari RSIS. Forum ini menjadi tempat untuk bertukar pandangan mengenai dinamika geopolitik, tantangan pembangunan nasional, kebijakan ekonomi, dan peluang kerja sama strategis antara Indonesia dan Singapura. Diskusi kali ini mengangkat tema “Indonesia’s Strategic Outlook: Navigating Geopolitical Competition and Strengthening ASEAN Centrality”.
Peran Penting RSIS dalam Dialog Strategis
Ibas menyampaikan rasa terima kasihnya kepada RSIS, Duta Besar Ong Keng Yong, serta Profesor Leonard Sebastian dan seluruh jajaran akademisi yang telah menyediakan ruang untuk dialog dan pertukaran ide. Menurut Ibas, RSIS memiliki peran yang signifikan sebagai pusat kajian strategis yang menghubungkan perspektif akademis dengan perkembangan geopolitik dan kebijakan di kawasan Asia Tenggara.
Ia menilai hubungan antara Indonesia dan Singapura sangat strategis, bukan hanya karena kedekatan geografis, tetapi juga karena saling ketergantungan kedua negara dalam menjaga stabilitas kawasan, perdagangan, investasi, ketahanan energi, pangan, dan pertumbuhan ekonomi. “Indonesia tidak bisa membangun masa depannya sendirian, membutuhkan kerja sama dengan Singapura dan negara-negara ASEAN lainnya untuk memperkuat ketahanan kawasan, membuka peluang ekonomi, dan menjawab tantangan yang semakin kompleks,” jelasnya.
Kepemimpinan yang Mendengarkan dan Membangun Konsensus
Ibas juga menekankan bahwa kepemimpinan yang efektif tidak hanya bergantung pada kewenangan atau ambisi, tetapi juga harus didukung oleh kemampuan mendengarkan, merumuskan visi, membangun konsensus, dan memastikan bahwa kebijakan yang diambil memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “To lead is to listen. Untuk memimpin, harus mau mendengarkan. Dan untuk memimpin ke masa depan, harus memiliki visi yang jelas,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa rencana pembangunan, baik jangka panjang, menengah, maupun pendek, harus saling terhubung. Pergantian pemerintahan tidak seharusnya mengganggu arah strategis pembangunan yang diperlukan untuk meningkatkan daya saing, memperkuat kemandirian ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak hanya dapat diukur dari angka Produk Domestik Bruto atau investasi yang masuk, tetapi juga harus tercermin dalam peningkatan pendapatan masyarakat, tersedianya pekerjaan yang layak, dan terbukanya kesempatan bagi generasi muda.
Ibas mengingatkan bahwa kesenjangan yang semakin melebar dapat menghambat pembangunan jangka panjang. Oleh karena itu, kebijakan pertumbuhan harus dirancang agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat, baik di perkotaan maupun perdesaan. “Pertumbuhan harus menciptakan kesempatan. Kesempatan harus membuka lapangan kerja. Dan pembangunan harus memastikan bahwa masyarakat yang paling membutuhkan tidak tertinggal. Inilah esensi pertumbuhan yang inklusif dan berkeadilan,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pengawasan dan evaluasi yang konsisten dalam kebijakan pembangunan. Perencanaan yang baik tidak akan memberikan hasil optimal tanpa pelaksanaan yang efektif, indikator keberhasilan yang jelas, dan akuntabilitas yang dapat diuji. Oleh karena itu, penguatan kapasitas kelembagaan, kualitas regulasi, dan koordinasi antarpemerintahan menjadi bagian penting dalam memastikan program pembangunan berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Ibas berharap bahwa dialog yang berlangsung di RSIS dapat mempererat hubungan akademik dan strategis antara Indonesia dan Singapura, serta memperkaya pertukaran gagasan dan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.