Update
Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia 28 Tahun Reformasi: Kritik Itu Perlu, Provokasi Itu Berbeda Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia 28 Tahun Reformasi: Kritik Itu Perlu, Provokasi Itu Berbeda
News

Kesaksian Warga Terdampak Banjir di Aceh: Dua Bulan Bertahan dengan Air Hujan, Sawah Menjadi Padang Pasir

Warga Gampong Wihlah Setie, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, menghadapi dampak parah akibat banjir bandang yang melanda pada November 2025, mengakibatkan sawah mereka berubah menjadi padang p...

Karim Abinaya 04 May 2026 16 pembaca liputan6.com liputan6.com
Kesaksian Warga Terdampak Banjir di Aceh: Dua Bulan Bertahan dengan Air Hujan, Sawah Menjadi Padang Pasir
Sekretaris Desa Wihlah Setie yang juga korban banjir, Hajirin. (Liputan6.com/Yacob Billiocta)

Gampong Wihlah Setie, yang terletak di Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang yang terjadi pada bulan November 2025. Desa ini berjarak sekitar 27 kilometer dari pusat pemerintahan di Kota Takengon dan terputus aksesnya di beberapa titik akibat bencana tersebut.


Desa yang dihuni oleh 240 orang ini berada di tepi Danau Lut Tawar, sebuah destinasi wisata terkenal di Takengon. Sekretaris Desa, Hajirin, menjelaskan bahwa hujan deras selama enam hari berturut-turut menyebabkan longsor di perbukitan, yang mengakibatkan air bercampur lumpur dan kayu meluncur deras ke arah desa. "Air datang dari perbukitan di sekeliling kami, sehingga menjadi seperti air bah," ungkapnya saat menceritakan kejadian tersebut.


Mengetahui adanya ancaman, perangkat desa segera menginstruksikan warga untuk evakuasi ke tempat yang lebih aman. Banjir tersebut merendam sawah, merusak saluran air bersih, dan menenggelamkan rumah-rumah kayu warga. "Bak tampung air kami juga terkena, sehingga pasokan air bersih terputus," tambah Hajirin.


Warga yang berhasil menyelamatkan diri berkumpul di balai desa dalam keadaan panik, menyaksikan sawah dan rumah mereka perlahan-lahan hilang terendam air. Selama dua bulan, mereka bertahan di lokasi pengungsian dengan keterbatasan, tanpa akses air bersih dan makanan yang memadai. Untuk mengatasi rasa haus, mereka terpaksa mengandalkan air hujan yang ditampung.


"Untuk minum, kami menggunakan air hujan atau air yang mengalir di sawah," kenang Hajirin. Sementara itu, untuk kebutuhan pangan, warga hanya mengandalkan sisa cadangan beras dari panen sebelumnya, tanpa lauk yang berarti.


Penderitaan warga semakin bertambah karena bantuan tidak kunjung tiba akibat jalur akses yang terputus. Hajirin menjelaskan, "Bantuan belum datang karena akses jalan putus total. Kami memahami situasi ini." Selain merusak rumah, lumpur banjir setebal lebih dari satu meter telah mengubah area persawahan menjadi padang pasir.


Ketika tim Liputan6.com mengunjungi desa, sisa-sisa lumpur masih terlihat di petak-petak sawah. "Semua ini terlihat seperti padang pasir. Sawah kami tidak bisa dikelola lagi," ungkap Hajirin. Warga hanya bisa pasrah dan bersabar menghadapi keadaan yang ada.


Seiring berjalannya waktu, ancaman bencana mulai mereda. Bantuan mulai berdatangan, dan warga pun perlahan kembali ke rumah mereka untuk memulai hidup baru. Hajirin menegaskan pentingnya saling mendukung di antara warga dalam proses pemulihan desa dan sawah.


Saat Liputan6.com berpamitan, suasana hangat dan ramah menyelimuti desa. "Jangan lupa untuk kembali lagi. Kami adalah keluarga," ujar Hajirin sambil menjabat tangan, menandakan harapan untuk masa depan yang lebih baik.


Artikel Terkait