Gampong Wihlah Setie, yang terletak di Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang yang terjadi pada bulan November 2025. Desa ini berjarak sekitar 27 kilometer dari pusat pemerintahan di Kota Takengon dan terputus aksesnya di beberapa titik akibat bencana tersebut.
Desa yang dihuni oleh 240 orang ini berada di tepi Danau Lut Tawar, sebuah destinasi wisata terkenal di Takengon. Sekretaris Desa, Hajirin, menjelaskan bahwa hujan deras selama enam hari berturut-turut menyebabkan longsor di perbukitan, yang mengakibatkan air bercampur lumpur dan kayu meluncur deras ke arah desa. "Air datang dari perbukitan di sekeliling kami, sehingga menjadi seperti air bah," ungkapnya saat menceritakan kejadian tersebut.
Mengetahui adanya ancaman, perangkat desa segera menginstruksikan warga untuk evakuasi ke tempat yang lebih aman. Banjir tersebut merendam sawah, merusak saluran air bersih, dan menenggelamkan rumah-rumah kayu warga. "Bak tampung air kami juga terkena, sehingga pasokan air bersih terputus," tambah Hajirin.
Warga yang berhasil menyelamatkan diri berkumpul di balai desa dalam keadaan panik, menyaksikan sawah dan rumah mereka perlahan-lahan hilang terendam air. Selama dua bulan, mereka bertahan di lokasi pengungsian dengan keterbatasan, tanpa akses air bersih dan makanan yang memadai. Untuk mengatasi rasa haus, mereka terpaksa mengandalkan air hujan yang ditampung.
"Untuk minum, kami menggunakan air hujan atau air yang mengalir di sawah," kenang Hajirin. Sementara itu, untuk kebutuhan pangan, warga hanya mengandalkan sisa cadangan beras dari panen sebelumnya, tanpa lauk yang berarti.
Penderitaan warga semakin bertambah karena bantuan tidak kunjung tiba akibat jalur akses yang terputus. Hajirin menjelaskan, "Bantuan belum datang karena akses jalan putus total. Kami memahami situasi ini." Selain merusak rumah, lumpur banjir setebal lebih dari satu meter telah mengubah area persawahan menjadi padang pasir.
Ketika tim Liputan6.com mengunjungi desa, sisa-sisa lumpur masih terlihat di petak-petak sawah. "Semua ini terlihat seperti padang pasir. Sawah kami tidak bisa dikelola lagi," ungkap Hajirin. Warga hanya bisa pasrah dan bersabar menghadapi keadaan yang ada.
Seiring berjalannya waktu, ancaman bencana mulai mereda. Bantuan mulai berdatangan, dan warga pun perlahan kembali ke rumah mereka untuk memulai hidup baru. Hajirin menegaskan pentingnya saling mendukung di antara warga dalam proses pemulihan desa dan sawah.
Saat Liputan6.com berpamitan, suasana hangat dan ramah menyelimuti desa. "Jangan lupa untuk kembali lagi. Kami adalah keluarga," ujar Hajirin sambil menjabat tangan, menandakan harapan untuk masa depan yang lebih baik.