Aboy Maulana, yang menjabat sebagai Ketua Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Kabupaten Bekasi, dengan tegas menolak narasi yang beredar di media sosial yang menyatakan bahwa Pondok Modern Darussalam Gontor memberikan teguran kepada Presiden Prabowo Subianto melalui pembacaan Surat Al-Ahzab Ayat 70–73 pada acara Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor. Aboy, yang merupakan alumni Gontor tahun 2000 dan juga wali santri, hadir langsung dalam rangkaian kegiatan tersebut dan menganggap bahwa narasi yang berkembang telah mengubah makna acara menjadi konteks politik yang tidak sesuai dengan pengalamannya di lokasi.
Menurut Aboy, narasi tersebut merupakan upaya untuk memecah belah, manipulasi informasi, serta penyesatan opini yang mencemari media sosial. “Kami yang hadir langsung di lokasi kegiatan selama tiga hari sangat kecewa dengan postingan orang-orang yang tidak hadir di lokasi,” ungkap Aboy dalam keterangannya pada hari Senin (28/9).
Penghormatan Terhadap Tamu Negara
Aboy menjelaskan bahwa suasana di lokasi acara menunjukkan penghormatan dan sambutan hangat dari keluarga besar Gontor kepada presiden. Ia menekankan bahwa tradisi pesantren menekankan pentingnya adab terhadap tamu, terutama kepada kepala negara. “Pimpinan dan keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor justru menyambut kehadiran kepala negara dengan penuh rasa hormat, kehangatan, serta memegang teguh adab dan etika pesantren,” tambahnya.
Kesaksian Aboy sejalan dengan catatan resmi Gontor mengenai jalannya resepsi yang berlangsung pada 19 September. Presiden Prabowo tiba setelah meresmikan Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam Gontor dan disambut oleh ribuan santri dengan pengibaran bendera Merah Putih serta penampilan marching band. Pada puncak acara, Presiden Prabowo juga menandatangani prasasti peresmian renovasi Aula Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) dan Fakultas Kedokteran UNIDA Gontor.
Menegaskan Makna Pembacaan Al-Qur'an
Aboy juga menyoroti pernyataan Pimpinan Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, dalam acara tersebut yang perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas. “Bahkan Presiden RI Bapak Prabowo Subianto meresmikan Balai Pertemuan Pondok Modern Gontor dan Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam Gontor di Kabupaten Ponorogo, dan dalam kesempatan tersebut Pimpinan Gontor KH. Hasan Abdullah Sahal juga mengatakan bahwa yang disampaikan oleh Presiden Prabowo sesuai dengan Gontor. Ini ada videonya, semua orang bisa melihat,” jelas Aboy.
Hubungan yang hangat dalam acara tersebut juga tampak saat pimpinan Gontor menyerahkan Mushaf Al-Qur’an Gontor kepada Presiden Prabowo, sementara KH Hasan Abdullah Sahal memberikan buku Gontor untuk Indonesia. Buku tersebut merupakan dokumentasi perjalanan dan kontribusi alumni Gontor dalam pengabdian kepada bangsa dan negara.
Aboy secara khusus menolak tafsir yang mengaitkan pembacaan Surat Al-Ahzab ayat 70–73 dengan narasi bahwa Gontor sedang 'menegur' atau 'menampar' Presiden. Ia menegaskan bahwa pembacaan surah tersebut adalah bagian dari protokol resmi dalam setiap acara besar pesantren, yang berfungsi sebagai pengingat dan doa kebaikan untuk seluruh bangsa.
Oleh karena itu, Aboy mengajak masyarakat untuk melihat momentum satu abad Gontor sebagai kesempatan untuk memperkuat persaudaraan dan kontribusi bagi bangsa, bukan menariknya ke dalam pertentangan politik. “Mari rawat persatuan yang sudah diwariskan pendahulu kita. Mari terus dijaga persatuan Indonesia,” tutup Aboy.