Polemik terkait buku 'Islam Ala Prabowo' masih menjadi perbincangan hangat. Mohamad Guntur Romli, seorang kader PDI Perjuangan, menilai kontroversi ini tidak hanya terbatas pada pemilihan judul, tetapi juga mencakup pengakuan dari sejumlah tokoh yang namanya disebutkan dalam buku tersebut tanpa pernah dilibatkan dalam prosesnya.
Guntur mengungkapkan bahwa sejak awal, judul 'Islam Ala Prabowo' telah mengundang berbagai pertanyaan. Ia menjelaskan bahwa frasa "Islam ala" seharusnya merujuk pada corak atau gagasan keislaman yang melekat pada seorang tokoh. "Islam ala siapa? Kebohongan di balik buku Islam ala Prabowo. Judul buku Islam ala Prabowo saja sudah cukup mengundang tanda tanya di kalangan netizen," ujarnya.
Pencatutan Nama Tokoh
Ia menambahkan bahwa istilah "ala" tidak menjadi masalah jika digunakan untuk menggambarkan pemikiran seseorang. Namun, persoalannya adalah apakah ada gagasan keislaman dari Presiden Prabowo Subianto yang ingin dirangkum dalam buku tersebut. "Islam ala Prabowo semestinya berarti Islam dengan gaya dan corak pemikiran Prabowo," jelasnya.
Guntur juga menyoroti nama tiga tokoh Islam yang disebutkan dalam buku, yaitu Gus Kautsar, Tuan Guru Bajang (TGB) atau KH Muhammad Zainul Majdi, dan Prof KH Said Aqil Siradj. Menurutnya, ketiga tokoh tersebut telah menyatakan bahwa mereka tidak pernah diminta untuk menulis atau dilibatkan dalam penyusunan buku tersebut. "Ketiganya menegaskan tidak pernah dilibatkan dan diminta tulisan dalam buku tersebut," tegasnya.
Kritik Terhadap Buku
Guntur berpendapat bahwa masalah ini tidak dapat dianggap sebagai kesalahan teknis atau redaksional semata. "Ini bukan sekadar kesalahan redaksional. Melainkan pencatutan nama yang pantas disebut kejahatan intelektual," ungkapnya. Ia membandingkan buku ini dengan penggunaan istilah "Islam ala" pada tokoh-tokoh yang memiliki rekam jejak pemikiran keislaman yang jelas.
Ia menyebutkan tokoh-tokoh seperti KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy'ari, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), hingga Said Aqil Siradj, yang istilah "Islam ala" mereka lebih mudah diterima karena terdapat gagasan dan pemikiran keislaman yang dapat ditelusuri. "Bandingkan dengan Islam ala K.H. Ahmad Dahlan, Islam ala K.H. Hasyim Ash'ari, atau ala Gus Dur dengan gagasan pribumisasi Islamnya, atau ala KH Aqil Siradj dengan Islam Nusantara," ujarnya.
Guntur juga mengingatkan tentang pemikiran Islam Soekarno yang dapat dilihat dari korespondensinya dengan Ustaz Ahmad Hasan, yang menunjukkan pemikiran Islam yang progresif, terbuka, dan toleran. Ia menilai bahwa judul 'Islam Ala Prabowo' berpotensi menjadi bumerang bagi Prabowo, karena ia tidak dikenal publik melalui gagasan atau wacana keislaman seperti tokoh-tokoh yang telah disebutkan.
Menurut Guntur, 'Islam ala Prabowo' terkesan dipaksakan, mengingat Presiden Prabowo tidak dikenal dalam wacana keislaman. Polemik semakin rumit dengan adanya masalah pencantuman nama ketiga tokoh tersebut, yang dapat berdampak negatif terhadap citra Prabowo. "Alih-alih Presiden Prabowo mendapatkan poin positif, yang ada kritik keras hingga ejekan," katanya.
Guntur juga mengingatkan Prabowo untuk lebih berhati-hati terhadap pihak-pihak yang mengklaim memberikan apresiasi kepada presiden. Ia menekankan bahwa dukungan yang dikemas sebagai penghargaan belum tentu memberikan keuntungan politik, dan bisa saja menimbulkan masalah baru bagi orang yang hendak didukung. "Presiden Prabowo mestinya hati-hati pada segelintir orang yang benar-benar mau memberikan apresiasi dan pengakuan dengan mereka yang ingin menjatuhkan," pungkasnya.
Polemik mengenai buku 'Islam Ala Prabowo' kini tidak hanya terbatas pada judul, tetapi juga meluas pada pencantuman nama tokoh serta pertanyaan mengenai gagasan yang ingin disampaikan melalui buku tersebut.