Penobatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai "Raja Timur" oleh masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) telah memicu kritik dari kalangan akademisi. Salah satu peneliti dari ISEAS Yusof-Ishak Institute menilai fenomena ini menandakan adanya pergeseran dalam strategi politik Jokowi yang didorong oleh ambisi kekuasaan.
Pergeseran Taktik Politik Jokowi
Dalam analisisnya, pengamat tersebut mencatat adanya perubahan signifikan dalam citra Jokowi dibandingkan dengan saat ia pertama kali muncul di panggung politik nasional. "Kalau dulu ia menyaru sebagai figur sederhana yang datang dari rakyat bawah, berani masuk gorong-gorong, dan membuat masyarakat terpesona, kini taktiknya berubah. Ia mulai dari atas dengan menunjukkan citra sebagai bagian dari kelas penguasa," ungkap Made Supriatma.
Made Supriatma juga menyoroti bahwa langkah Jokowi yang terus menerima berbagai gelar adat, termasuk "raja", menunjukkan ambisinya untuk mempertahankan pengaruh. Namun, ia menilai bahwa tindakan tersebut membawa dilema dan ambivalensi politik yang besar. Menurutnya, seorang yang ingin berpengaruh dalam politik seharusnya mampu bersikap independen dari rezim yang ada. "Dimanapun, figur yang mau berkuasa harus independen dari penguasa. Kalau tidak mampu jadi oposisi, minimal mengambil jarak. Masalahnya, ia tidak bisa terlalu berjarak karena anak sulungnya ada di dalam rezim tersebut," jelasnya, merujuk pada Gibran Rakabuming Raka.
Kritik Terhadap Kebangkrutan Moral
Lebih lanjut, Made menilai fenomena penganugerahan gelar dan manuver politik Jokowi belakangan ini sebagai tanda 'kebangkrutan' moral dan politik, bukan finansial. Ia mengkritik keras motivasi di balik langkah politik tersebut yang dianggap hanya untuk melanggengkan kekuasaan dinasti dan memberikan panggung bagi anak-anaknya. "Ia bangkrut secara moral dan politik demi nafsu berkuasa yang tanpa henti, serta demi anak-anaknya yang dinilai belum memiliki kemampuan dan komitmen kuat untuk bangsa," tegasnya.
Made juga menyoroti lingkungan politik di sekitar Jokowi, yang menurutnya dipenuhi oleh para oportunis. "Sebagian besar orang yang mengelilinginya adalah mereka yang hanya mengejar keuntungan dan modal finansial. Saat ini mereka merapat, tetapi ketika terjadi krisis politik, mereka adalah kelompok pertama yang akan berbalik arah dan pergi," pungkasnya.
Sebagai tambahan, pada Sabtu (1/8/2026), masyarakat memadati kawasan Lai-Lai Besi Kopan (LLBK) di Kota Kupang, NTT, untuk menyaksikan penobatan Jokowi sebagai Sesepuh Raja-raja Timor. Dalam acara tersebut, Jokowi mengenakan ikat kepala dan kain tenun khas Timor, berdiri di tengah para raja dan tokoh adat. Meskipun acara telah berakhir, antusiasme masyarakat tetap tinggi, dengan banyak yang tetap berada di lokasi sambil mengangkat telepon genggam untuk mengabadikan momen tersebut.