Arif Wicaksono, seorang pegiat media sosial, mengamati dinamika politik yang melibatkan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ia mempertanyakan pola kunjungan Jokowi ke berbagai daerah yang sering kali diikuti oleh Gibran, yang menurutnya mengindikasikan adanya kepentingan politik, terutama dalam membangun dukungan untuk keluarga Jokowi.
“Jokowi bilang kunjungannya ke daerah ‘bukan untuk elektoral Gibran’. Polanya jelas,” ungkap Arif. Ia memberikan contoh kunjungan Jokowi ke Lampung pada bulan Juni 2026, di mana Jokowi mengenakan kemeja dan topi PSI, menghadiri Rakorda PSI, dan menyatakan bahwa kunjungannya juga penting untuk PSI. “Terima gelar adat, blusukan, foto, pulang,” tambahnya. Beberapa minggu setelah itu, Gibran juga mengunjungi Lampung Timur.
Pola Kunjungan yang Sama
Arif melanjutkan analisisnya dengan menunjukkan kesamaan pola yang terlihat pada kunjungan Jokowi ke Nusa Tenggara Timur (NTT) pada bulan Agustus 2026. “Gelar adat lagi. Silaturahmi lagi. Framing ‘masih orang kampung’ lagi. Semua diklaim ‘murni undangan’. Semua ‘bukan untuk elektoral’,” jelasnya. Tak lama setelah kunjungan tersebut, Gibran juga melakukan kunjungan ke NTT, termasuk setelah terjadinya gempa bumi di daerah tersebut.
Mempertanyakan Agenda Politik
Arif kemudian mempertanyakan alasan di balik pemilihan daerah dan waktu kunjungan Jokowi yang sering beririsan dengan agenda Gibran. “Kalau bukan untuk itu, kenapa selalu daerah yang sama? Kenapa selalu timing yang sama? Kenapa selalu anak yang sama yang menyusul?” tanyanya. Ia juga menyerukan agar Jokowi lebih transparan mengenai agenda politik keluarganya. “Sudah waktunya berhenti pura-pura. Bilang saja: ‘Saya sedang bangun mesin politik untuk anak-anak saya.’ Lebih baik daripada membantah,” tegasnya.