Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan, menyatakan bahwa Istana Gebang yang terletak di Jalan Sultan Agung, Kota Blitar, Jawa Timur, lebih dari sekadar bangunan bersejarah. Menurutnya, rumah yang merupakan peninggalan dari masa kolonial Belanda ini menyimpan cerita tentang cinta terhadap Tanah Air dan semangat perjuangan Presiden Soekarno dalam merebut kemerdekaan. “Istana Gebang ini tidak hanya untuk didatangi, tetapi juga diresapi,” ungkap Megawati saat memberikan sambutan pada acara peresmian renovasi Istana Gebang, yang berlangsung pada Senin, 15 Juni 2026.
Refleksi Perjalanan Hidup Bung Karno
Dalam pembicaraannya mengenai Istana Gebang sebagai tempat masa kecil Bung Karno, Megawati mengingat kembali perjalanan hidup ayahnya yang dipenuhi dengan pengalaman di penjara dan pengasingan. Ia menyebutkan bahwa Bung Karno menghabiskan total sekitar 22 tahun dalam penjara dan pengasingan sejak usia muda. Ketika ayah Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodihardjo, dipindahtugaskan dari Mojokerto ke Blitar untuk mengajar di Normal Jongens School pada tahun 1917, yang kini dikenal sebagai SMAN 1 Kota Blitar, Soekarno yang saat itu berusia 11 tahun sudah lebih dulu menghabiskan waktu di Surabaya untuk menempuh pendidikan di Hoogere Burger School (HBS). Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB), dan mulai aktif dalam pergerakan nasional. Pada masa-masa tersebut, Istana Gebang menjadi tempat bagi Soekarno untuk kembali menemui ayah dan ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai.
“Bung Karno dipenjara keluar masuk, dibuang tiga kali, dan ternyata lamanya waktu di pembuangan sebagai seorang pemuda itu 22 tahun. Coba kalian. Pasti bilang saya tidak mau, saya tidak mampu. Siapa yang mau dipenjara. Siapa yang mau dibuang,” kata Megawati.
Menghidupkan Semangat Perjuangan
Bagi Megawati, berada di kompleks Istana Gebang membuatnya merasakan kembali kehadiran sosok-sosok yang menentang penjajahan dan mempertahankan semangat perjuangan untuk membebaskan bangsa dari penindasan. Ia menambahkan bahwa benih perjuangan kemerdekaan dalam diri Bung Karno juga berasal dari ibunya, yang merupakan neneknya. “Nenek saya itu sangat membenci Belanda, penjajah. Itu diceritakan ayah saya. Saat saya berbicara ini, semoga nenek saya ada di sini, di Istana Gebang ini. Semoga Bung Karno juga ada di sini,” tutur Megawati.
Megawati juga menceritakan momen ketika Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menyampaikan jadwal peresmian renovasi Istana Gebang kepadanya. “Pak Hasto bilang, ‘Bu, nanti Istana Gebang mau dibuka. Minta Ibu yang resmikan’. Apa Istana Gebang hanya tempat tinggal Bung Karno masa kecil? Tidak. Tapi semangat perjuangan beliau-beliau,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya untuk terus mewariskan cerita tentang semangat perjuangan yang tersimpan di Istana Gebang kepada generasi muda. Megawati berpendapat bahwa Istana Gebang harus menjadi tempat bagi generasi muda untuk memahami dan menghayati sejarah perjuangan para pahlawan dan pendiri bangsa, khususnya melalui kisah hidup Bung Karno. “Ini kan sudah berapa generasi ya. Mengerti Bung Karno, tapi siapa Bung Karno itu ternyata banyak yang belum tahu secara benar,” jelas Megawati.
Untuk memastikan bahwa masyarakat, terutama anak muda, dapat mengenal sosok Bung Karno, Istana Gebang akan dibuka sebagai tempat yang dapat dikunjungi. Sebelum mengakhiri sambutannya, Megawati menekankan pentingnya generasi muda Indonesia untuk memberikan penghormatan tidak hanya kepada Bung Karno, tetapi juga kepada para pejuang kemerdekaan lainnya. Ia juga menyebutkan sosok Sodancho Supriyadi, komandan PETA yang pernah memimpin serangan bersenjata melawan militer Jepang. Dari peristiwa pemberontakan PETA di Blitar, Megawati mencatat bahwa terdapat banyak makam pasukan PETA yang tidak memiliki nama. “Itu banyak di TMP, banyak nisan kuburan tapi tidak ada nama. Kenapa? Karena tidak bisa dikenali siapa. Mana rasa perikemanusiaan kalian,” katanya.