Update
Ketegangan Seputar Ijazah Jokowi dan Gibran, Bambang Tri Mulyono: Ada Ancaman bagi Gibran di Pilpres 2029 Dukungan Gus Lilur untuk Reformasi PBNU oleh Gus Kikin Inovasi Mahasiswa UNEJ: Terapi Koktail Bakteriofag untuk Mengatasi Keracunan Makanan Penelitian Dampak Kesehatan Anak-Anak Korban Tragedi 9/11 Dimulai, Fokus pada Racun Debu IHSG Melemah di Level 6.495, 535 Saham Mengalami Penurunan Budi Arie Setiadi Soroti Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Politik Basarnas Tingkatkan Upaya Pencarian Lima Jurnalis yang Hilang Saat Meliput Erupsi UNDIP Bekerja Sama dengan Universite Paris-Saclay untuk Meningkatkan Peringkat Global Melalui Riset dan Beasiswa Doktor Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau: Apakah Akan Segera Berakhir? Pertamina Ambil Alih SPBU Melanggar Aturan untuk Jamin Pasokan BBM Ketegangan Seputar Ijazah Jokowi dan Gibran, Bambang Tri Mulyono: Ada Ancaman bagi Gibran di Pilpres 2029 Dukungan Gus Lilur untuk Reformasi PBNU oleh Gus Kikin Inovasi Mahasiswa UNEJ: Terapi Koktail Bakteriofag untuk Mengatasi Keracunan Makanan Penelitian Dampak Kesehatan Anak-Anak Korban Tragedi 9/11 Dimulai, Fokus pada Racun Debu IHSG Melemah di Level 6.495, 535 Saham Mengalami Penurunan Budi Arie Setiadi Soroti Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Politik Basarnas Tingkatkan Upaya Pencarian Lima Jurnalis yang Hilang Saat Meliput Erupsi UNDIP Bekerja Sama dengan Universite Paris-Saclay untuk Meningkatkan Peringkat Global Melalui Riset dan Beasiswa Doktor Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau: Apakah Akan Segera Berakhir? Pertamina Ambil Alih SPBU Melanggar Aturan untuk Jamin Pasokan BBM
Politik

Transformasi Istana Gebang: Memperlihatkan Intelektualitas Bung Karno Melalui Patung dan Relief

Perubahan signifikan pada Istana Gebang, rumah masa kecil Bung Karno, terlihat dengan penggantian patung dan penambahan relief yang menggambarkan perjalanan hidupnya. Renovasi ini bertujuan untuk meno...

Aruna Sasmita 16 June 2026 60 pembaca sorotpolitik.kompas.com sorotpolitik.kompas.com
Transformasi Istana Gebang: Memperlihatkan Intelektualitas Bung Karno Melalui Patung dan Relief
sorotpolitik.kompas.com

Istana Gebang, yang terletak di Jalan Sultan Agung, Kota Blitar, Jawa Timur, mengalami transformasi mencolok dengan penggantian patung Presiden Soekarno. Proyek renovasi dan rehabilitasi yang berlangsung selama enam bulan sejak Desember 2025 ini menghadirkan sejumlah perubahan yang signifikan, termasuk delapan pilar beton setinggi lima meter yang berdiri di sisi kanan halaman.

Selain itu, pagar sepanjang 20 meter yang memisahkan halaman Istana Gebang dari area kios kini dihiasi relief yang menggambarkan perjalanan hidup Bung Karno. Renovasi ini dilakukan dengan gotong royong oleh jajaran pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Jawa Timur, yang juga mencakup penggantian lantai halaman dengan batu andesit, genteng, pengecatan, dan perbaikan lainnya. Patung baru yang menjadi pusat perhatian ini menampilkan Bung Karno dalam posisi duduk, menyilangkan kaki sambil membaca buku, menggantikan patung sebelumnya yang menunjukkan sosoknya berdiri tegap.

Mencerminkan Sosok Intelektual Bung Karno

Erma Susanti, mantan Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur yang kini menjabat Ketua Dewan Perwakilan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung, menyatakan bahwa penggantian patung ini bertujuan untuk menonjolkan sosok Bung Karno sebagai seorang intelektual. “Bung Karno adalah seorang intelektual. Beliau dikenal gemar membaca buku,” ungkap Erma dalam siaran pers.

Dunadi, perupa asal Bantul, Yogyakarta, yang bertanggung jawab atas pembuatan patung tersebut, menjelaskan bahwa DPD PDI Perjuangan Jawa Timur awalnya memesan patung Bung Karno dalam posisi duduk. Dalam proses konsultasi, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meminta agar patung tersebut dibuat mirip dengan yang ada di kompleks kantor Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) di Jakarta. “Kebetulan yang di Lemhanas itu kami juga yang bikin. Jadi, ya dibikin sama. Ukuran juga (dibuat) sama setelah mempertimbangkan lokasi di Istana Gebang ini,” jelas Dunadi.

Proses Pembuatan dan Makna Patung

Dunadi dan timnya yang terdiri dari enam perupa menghabiskan waktu sekitar enam bulan untuk menyelesaikan patung berbahan perunggu tersebut, mulai dari pembuatan cetakan hingga pengecoran logam. Ia memilih sosok Bung Karno pada usia sekitar 45 tahun sebagai inspirasi, karena pada usia tersebut, energi dan kepemimpinan Bung Karno berada pada puncaknya. Pada masa ini, Bung Karno juga terlibat dalam perumusan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Dunadi mengungkapkan tantangan terbesar dalam pembuatan patung adalah menghadirkan karakter Bung Karno yang dikenal jenius dan kharismatik. “Kita punya hidung, tapi hidung kita beda-beda. Pak Karno itu hidungnya lain, matanya lain. Tapi, proporsinya luar biasa,” tambahnya.

Ia juga mengagumi keberanian Bung Karno yang sejak muda berani menentang praktik kolonialisme. “Itu kan hal yang sangat mustahil bagi kita, ya. Makanya, generasi penerus (seperti) kita ini harus mencontoh teladan perjuangan beliau. Nilai keberpihakannya,” tuturnya.

Relief Perjalanan Hidup Bung Karno

Selain patung, Dunadi juga merancang relief yang menghiasi pagar Istana Gebang, menggambarkan perjalanan hidup Bung Karno dalam lima panel. Panel pertama berjudul “Masa Kecil Soekarno” yang menggambarkan kehidupan Bung Karno sejak lahir di Surabaya hingga keluarganya pindah ke Blitar pada tahun 1917. Panel kedua menampilkan masa penggemblengan Bung Karno, dari pendidikan di Surabaya dan Bandung hingga pendirian Partai Nasional Indonesia (PNI).

Panel ketiga menggambarkan pengaruh Bung Karno yang semakin besar dalam pergerakan kebangsaan hingga ia dipenjara dan diasingkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Di Bengkulu, Bung Karno bertemu Fatmawati, yang kemudian menjadi ibunda Megawati Soekarnoputri. Panel keempat menampilkan keterlibatan Bung Karno dalam perumusan dasar negara dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, sedangkan panel terakhir menggambarkan masa-masa akhir kepemimpinan Bung Karno hingga wafat pada 21 Juni 1970. “Relief-relief itu hanya rangkaian singkat perjalanan hidup dan perjuangan Pak Karno,” pungkas Dunadi.

Artikel Terkait