JAKARTA - Penanggulangan epidemi merokok tidak bisa hanya bergantung pada upaya pencegahan. Penting untuk mempercepat penurunan jumlah perokok dewasa melalui kebijakan pengendalian tembakau yang lebih efektif. Salah satu pendekatan yang kini kembali diperhatikan adalah tobacco harm reduction (THR) atau pengurangan risiko tembakau, yang mendorong perokok dewasa untuk beralih dari rokok konvensional ke produk nikotin alternatif yang tidak melalui proses pembakaran.
Pentingnya Penyesuaian Kebijakan
Ruth Bonita dan Robert Beaglehole dalam jurnal The Lancet yang berjudul "Beyond a Smoke-Free Generation: Ending Smoking Within a Generation" menekankan bahwa strategi ini perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri epidemi merokok. Mereka menyatakan bahwa kebijakan pengendalian tembakau harus disesuaikan dengan perkembangan bukti ilmiah terkait produk nikotin bebas asap. "Jika tujuannya adalah mengakhiri epidemi merokok, kebijakan pengendalian tembakau global perlu memprioritaskan percepatan transisi dari konsumsi rokok menuju produk nikotin alternatif," tulis Bonita dan Beaglehole.
Produk Alternatif yang Dipertimbangkan
Produk alternatif yang dimaksud mencakup rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, serta kantong nikotin. Menurut mereka, penelitian selama satu dekade terakhir menunjukkan bahwa produk tanpa pembakaran memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok bagi perokok dewasa. Produk-produk ini juga dianggap dapat membantu perokok beralih dari rokok konvensional. Namun, penerapan kebijakan THR harus tetap mempertimbangkan bukti ilmiah dan perlindungan masyarakat.
Bonita dan Beaglehole juga mengingatkan tentang potensi dampak dari pelarangan produk alternatif yang memiliki risiko lebih rendah. "Pelarangan terhadap produk alternatif yang memiliki risiko lebih rendah berisiko membuat rokok tetap menjadi produk nikotin legal yang dominan atau mendorong permintaan ke pasar ilegal," tulis mereka.
Tikki Pangestu, mantan Direktur WHO, juga berpendapat bahwa THR bisa menjadi bagian dari strategi pengendalian tembakau. Dia menekankan bahwa pendekatan ini bukan untuk menggantikan kebijakan yang ada, melainkan untuk melengkapinya. "Tobacco Harm Reduction menjadi salah satu pendekatan yang masih belum dimanfaatkan secara optimal," ungkap Tikki.
Beberapa perguruan tinggi di Indonesia telah melakukan penelitian mengenai produk tembakau alternatif, termasuk mengkaji emisi zat berbahaya dari produk tersebut dibandingkan dengan rokok konvensional. Tikki menilai bahwa pendekatan berbasis pengurangan risiko dapat menjadi salah satu opsi dalam agenda kesehatan masyarakat di Indonesia. "Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin transformasi pengendalian tembakau di ASEAN," kata Tikki. Dia berharap strategi ini dapat dikembangkan secara proporsional, berbasis bukti ilmiah, dan tetap memperhatikan kepentingan kesehatan masyarakat. "Strategi ini juga berpotensi memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin di kawasan," tutupnya.