Update
Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia 28 Tahun Reformasi: Kritik Itu Perlu, Provokasi Itu Berbeda Narasi “Reformasi Jilid 2” Ramai Digulirkan, Pengamat Soroti Fenomena Fetisisme Revolusi di Kalangan Oposisi Film “Pesta Babi” Dinilai Provokatif, Kritik Muncul terhadap Narasi dan Representasi Papua MAMA YASINTA TERNYATA KORBAN PENIPUAN..? Polemik Film “Pesta Babi” Makin Memanas Seni Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah: Waspadai Provokasi yang Dibungkus Karya Seni Framing Negatif terhadap TNI di Ruang Digital Dinilai Menguat, Pengamat Soroti Pola Perang Opini Modern Narasi Intimidasi Tanpa Bukti di Media Sosial Dinilai Berpotensi Bangun Framing Negatif terhadap Institusi Negara Film “Pesta Babi” dan Narasi Papua: Ketika Isu HAM, Propaganda Global, dan Kepentingan Asing Kembali Dipertanyakan Dana Asing, Narasi Tandingan, dan Perang Opini Digital: Ketika Kedaulatan Negara Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dana Asing dan Perang Narasi Digital: Dugaan Operasi Pengaruh yang Menyasar Generasi Muda Indonesia 28 Tahun Reformasi: Kritik Itu Perlu, Provokasi Itu Berbeda
News

Pendidikan Antikorupsi Jadi Kunci dalam Membangun Karakter Bangsa

Kementerian Dalam Negeri meluncurkan Buku Panduan Pendidikan Antikorupsi, menekankan pentingnya pendidikan sejak dini untuk membentuk karakter dan integritas masyarakat.

Kalula Putri 11 May 2026 12 pembaca liputan6.com liputan6.com
Pendidikan Antikorupsi Jadi Kunci dalam Membangun Karakter Bangsa
Wamendagri Akhmad Wiyagus bersama Ketua KPK dan Mendikdasmen meluncurkan Buku Panduan dan Bahan Ajar Pendidikan Antikorupsi (PAK) di Kantor Kemendagri, Jakarta. (Foto: Liputan6.com/Delvira Hutabarat).

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengungkapkan bahwa penegakan hukum saja tidak cukup untuk memberantas korupsi. Oleh karena itu, pendidikan antikorupsi yang dimulai sejak usia dini sangat diperlukan untuk membentuk karakter dan integritas individu. Peluncuran Buku Panduan dan Bahan Ajar Pendidikan Antikorupsi (PAK) berlangsung di Jakarta pada hari Senin, 11 Mei 2026, dengan dukungan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Sinergi dalam Pemberantasan Korupsi

Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi antara semua pemangku kepentingan dalam upaya pemberantasan korupsi. Ia menyatakan, "Pemberantasan korupsi membutuhkan sinergi yang komprehensif, yang baik dari seluruh pemangku kepentingan. Korupsi adalah penyakit karakter."

Pendidikan sebagai Pencegahan

Wiyagus juga menegaskan bahwa penegakan hukum tidak cukup untuk mengatasi masalah korupsi. "Obatnya bukan hanya jeruji besi atau penegakan hukum, tetapi juga masuk ke tataran preemtif dan preventif," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pendidikan antikorupsi harus menjadi dasar dalam membangun karakter dan integritas bangsa. "Pendidikan antikorupsi juga adalah strategi kita untuk menciptakan kekebalan komunal terhadap perilaku yang menjurus kepada tindakan koruptif," jelasnya.

Lebih lanjut, Wiyagus menggarisbawahi pentingnya menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan disiplin sejak dini. Dengan demikian, diharapkan nilai integritas dapat menjadi prinsip hidup dalam melawan korupsi. "Dari pendidikan antikorupsi sejak dini juga merupakan langkah awal untuk menggeser paradigma bahwa kita harus melakukan normalisasi kejujuran dan denormalisasi korupsi," tutupnya.

Artikel Terkait