Menteri Agama Nasaruddin Umar melaksanakan pengukuhan terhadap 10 ribu guru Al-Qur’an Indonesia dan secara resmi membuka Muktamar V Wahdah Islamiyah di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada hari Sabtu, 22 Agustus. Dalam sambutannya yang disampaikan di hadapan ribuan peserta Tabligh Akbar Nasional serta para guru Al-Qur’an, Nasaruddin memberikan apresiasi kepada Wahdah Islamiyah yang telah mengerahkan ribuan tenaga pengajar untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an di masyarakat.
“Saya kukuhkan sekali lagi 10 ribu guru mengaji. Selamat jalan, selamat berjuang,” ungkap Nasaruddin sebelum meresmikan Muktamar V Wahdah Islamiyah yang mengangkat tema “Memantapkan Persatuan dan Kolaborasi Menuju Indonesia Berkah.” Ia menekankan bahwa upaya pemberantasan buta aksara Al-Qur’an tidak dapat sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Organisasi masyarakat Islam, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas juga harus terlibat dalam memperluas akses pendidikan Al-Qur’an.
Pentingnya Peran Masyarakat dalam Pendidikan Al-Qur’an
Nasaruddin menyatakan bahwa Kementerian Agama tidak dapat menyelesaikan masalah buta huruf Al-Qur’an sendirian. “Di sinilah peran ormas Islam, termasuk Wahdah Islamiyah yang menyumbangkan 10 ribu guru Al-Qur’an,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa jumlah masyarakat yang belum mampu membaca Al-Qur’an masih cukup tinggi, sehingga kehadiran 10.000 guru ini diharapkan dapat memberikan dampak yang luas hingga ke berbagai daerah.
Ia menggambarkan, jika setiap guru dapat membimbing setidaknya 10 orang, program ini berpotensi menjangkau puluhan hingga ratusan ribu orang. “Kalau 10 ribu orang ini membebaskan 10 orang, maka insyaallah dalam tempo tiga tahun Indonesia akan semakin dekat untuk bebas dari buta huruf Al-Qur’an,” tambahnya.
Peran Guru Al-Qur’an dalam Pembentukan Karakter
Nasaruddin juga menyampaikan pesan kepada para guru Al-Qur’an yang telah dikukuhkan agar tidak hanya fokus pada pengajaran membaca dan menghafal, tetapi juga mampu membimbing karakter dan kehidupan spiritual para murid. Ia menggunakan istilah mursyid untuk menggambarkan peran guru yang tidak hanya berhenti pada transfer pengetahuan. “Jadilah betul-betul sebagai guru, dalam kurung mursyid. Kita tidak hanya mengajarkan membaca Al-Qur’an, tetapi juga berharap para guru ini berhasil menembus batin para muridnya,” jelasnya.
Menurutnya, tugas guru Al-Qur’an juga mencakup penanaman nilai, akhlak, persatuan, dan semangat pengabdian kepada masyarakat. Nasaruddin merasa terkesan dengan pengukuhan 10 ribu guru Al-Qur’an yang berlangsung beberapa hari setelah Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan. Ia juga mengajak para guru untuk meneladani para sahabat Nabi Muhammad SAW yang meninggalkan kampung halaman untuk menyebarkan ajaran Islam dan mengajarkan Al-Qur’an di berbagai wilayah.
Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin memberikan penghargaan kepada Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah, Zaitun Rasmin, atas perkembangan organisasi tersebut dan jangkauannya di berbagai daerah di Indonesia. “Ustaz Zaitun Rasmin melakukan pergerakan yang sangat luar biasa, menggerakkan Wahdah Islamiyah yang relatif baru, namun massanya sudah menjangkau seluruh Indonesia,” tuturnya.
Nasaruddin menambahkan bahwa gerakan sosial dan keagamaan yang dibangun dengan niat pengabdian akan mendapatkan dukungan masyarakat jika memberikan manfaat yang nyata. Muktamar V Wahdah Islamiyah juga dihadiri oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung, Ketua MUI Pusat KH Anwar Iskandar, serta perwakilan dari negara sahabat. Acara ini juga diisi dengan tausiyah dari sejumlah tokoh, di antaranya Habib Nabiel Al-Musawa, Fahmi Salim, Muhammad Subki Al-Bughury, dan Faris Baswedan. Hadir pula Muhammad Yahya At-Thohir, yang merupakan imam, qari, dan juri Al-Qur’an internasional.