Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, mengungkapkan bahwa Kementerian Sosial (Kemensos) terus berupaya untuk memperbaiki tata kelola dan pengawasan di Sekolah Rakyat. Selain itu, penguatan sumber daya manusia yang terlibat juga menjadi perhatian utama. Pernyataan ini disampaikan Gus Ipul saat mengunjungi Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 4 di DKI Jakarta pada malam hari, Minggu (11/10).
Gus Ipul menyatakan, “Dapat saya sampaikan bahwa proses pembelajaran telah berjalan dengan baik, meskipun masih banyak kekurangan-kekurangan, dan kami juga harus terus memperbaiki tata kelola, pengawasan, sekaligus mencukupi kekurangan tenaga pendidik seperti guru, wali asrama, dan wali asuh.” Dalam suasana hangat, Gus Ipul juga berbagi momen makan malam bersama para siswa di SRT 4, di mana beberapa siswa berani tampil untuk menyanyikan lagu.
Penampilan Siswa yang Menghibur
Salah satu siswa, Jessie dari kelas 10, menyanyikan lagu “Aku yang Dulu Bukanlah yang Sekarang”. Sementara itu, Libo, seorang siswa asal Papua yang kini bersekolah di Bekasi, tampil percaya diri membawakan lagu “Perahu Retak” dari Franky Sahilatua, yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari teman-temannya. Penampilan berikutnya datang dari Latifah yang menyanyikan “Gala Bunga Matahari” dengan penuh penghayatan. Kedekatan antara Latifah dan Jessie, meskipun berasal dari latar belakang keyakinan yang berbeda, mencerminkan kebersamaan di antara siswa Sekolah Rakyat.
Pendidikan yang Berbasis Keragaman
Gus Ipul menjelaskan bahwa penyelenggaraan Sekolah Rakyat saat ini berlangsung di berbagai lokasi dengan kondisi sarana prasarana yang bervariasi. Beberapa sekolah telah menempati gedung permanen, sementara yang lain masih menggunakan gedung sementara sambil menunggu pembangunan fasilitas permanen. “Sekarang sudah ada lebih dari 44 ribu siswa di seluruh Indonesia di 182 titik, 93 di antaranya sudah menggunakan gedung permanen, sisanya masih menggunakan gedung sementara sambil menunggu proses pembangunan gedung permanennya. Khusus untuk gedung permanen itu kapasitasnya mencapai lebih dari 2 ribu siswa setiap titik nantinya, jenjang SD, SMP, dan SMA,” jelasnya.
Lebih lanjut, Gus Ipul menekankan bahwa siswa Sekolah Rakyat memiliki latar belakang yang beragam. Mereka berasal dari berbagai keluarga, budaya, kebiasaan, dan pola asuh yang berbeda. Oleh karena itu, proses pendidikan perlu dilakukan dengan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga memperhatikan kondisi sosial, psikologis, dan kesehatan setiap siswa. “Kami tahu bahwa penjangkauan (siswa) tidak dengan menggunakan tes akademik, tapi menggunakan pendekatan berbasis data desil 1 dan desil 2, yaitu keluarga-keluarga yang paling tidak mampu secara sosial ekonomi,” ungkapnya.
Gus Ipul menambahkan bahwa dengan latar belakang siswa yang bervariasi, tantangan bagi Kepala Sekolah, guru, dan tenaga kependidikan dalam mendidik siswa menjadi semakin besar. “Maka dari itu dalam proses pembelajarannya, di samping kita melakukan pendekatan edukatif, tapi juga memberikan pendekatan rehabilitasi bagi siswa-siswa yang memerlukan layanan psikososial,” ujarnya. Meskipun banyak tantangan, Gus Ipul mencatat bahwa selama satu tahun pelaksanaan Sekolah Rakyat, para siswa telah meraih berbagai prestasi baik di tingkat internasional, nasional, maupun regional. “Namun demikian banyak potensi yang ketika menemukan satu pendampingan yang tepat, banyak prestasi yang sudah diraih. Tahun 2025 kemarin, tahun 2026 ini, sudah ribuan prestasi tingkat internasional, nasional, dan juga tingkat kabupaten, kota sampai tingkat kecamatan,” tutupnya.