Wacana mengenai kemungkinan duet Anies Baswedan dan Gibran Rakabuming Raka dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mendapatkan penolakan dari Geisz Khalifah, yang merupakan kolega dekat Anies. Geisz berpendapat bahwa Anies memiliki rekam jejak dan prinsip yang sangat bersih, sehingga tidak pantas jika disandingkan dengan Gibran. Ia menilai bahwa ide tersebut tidak logis jika mempertimbangkan nilai-nilai politik yang selama ini diperjuangkan oleh Anies dan para pendukungnya.
Geisz, yang sebelumnya menjabat sebagai Komisaris PT Pembangunan Jaya Ancol, menyatakan bahwa Anies adalah sosok intelektual yang dikenal membawa gagasan dan nilai dalam dunia politik. Oleh karena itu, menurutnya, memasangkan Anies dengan Gibran akan menimbulkan masalah prinsipil. Ia menyebutkan, "Semua orang cocok sama Anies kecuali Gibran. Buat saya gak cocok aja gitu, Anies intelektual bersih terus didampingi sama anak haram konstitusi," dalam sebuah tayangan video yang diunggah di akun Facebooknya.
Kritik Terhadap Putusan MK
Pernyataan Geisz juga terkait dengan kontroversi mengenai perubahan ketentuan batas usia calon presiden dan wakil presiden yang diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) menjelang Pilpres 2024. Putusan tersebut memberikan kesempatan bagi Gibran, yang saat itu belum memenuhi syarat usia minimum, untuk maju sebagai calon wakil presiden. Gibran akhirnya berpasangan dengan Prabowo Subianto dan berhasil memenangkan Pilpres 2024.
Geisz menilai bahwa isu ini bukan sekadar perhitungan politik semata. Ia percaya bahwa ada prinsip etika dan konstitusi yang harus dijaga, meskipun keputusan politik tersebut berpotensi memberikan keuntungan dalam hal elektoral. Ia menegaskan bahwa Anies seharusnya tidak mengabaikan prinsip-prinsip tersebut hanya demi meningkatkan peluang dalam Pilpres 2029. "Itu sama aja kita merusak diri kita sendiri. Menutup mata untuk sebuah ketidakbenaran demi kekuasaan," ujarnya.
Komitmen Terhadap Nilai Politik
Geisz menjelaskan bahwa dukungan yang ia berikan kepada Anies bukanlah karena kepentingan materi atau keuntungan politik pribadi. Ia mengungkapkan bahwa dukungannya berasal dari kesamaan pandangan mengenai arah politik dan gagasan yang diperjuangkan. "Kan kita dukung Anies itu dengan, apa, kalau bahasa hiperbolanya segenap hati, segenap pikiran, segenap tenaga," tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa dukungan politik tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk bersikap kritis terhadap figur yang didukung. Loyalitas kepada Anies, menurutnya, tidak berarti menerima semua keputusan tanpa pertimbangan. Geisz mengakui bahwa dalam politik, kompromi adalah hal yang tidak terhindarkan, namun ia menegaskan bahwa ada batasan dalam hal-hal yang menyangkut prinsip, terutama yang berkaitan dengan etika.
Geisz menegaskan bahwa kedekatannya dengan Anies tidak berarti ia akan membenarkan setiap langkah yang diambil oleh mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut. Jika suatu saat Anies membuat keputusan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diyakini, Geisz menyatakan bahwa ia lebih memilih untuk menjaga jarak. "Kan kita gak nyari duit di politik. Kita ikut terlibat karena kita merasa bahwa ada sesuatu yang baik untuk bangsa ini," pungkasnya.
Wacana duet Anies dan Gibran menjadi salah satu spekulasi yang berkembang menjelang Pilpres 2029. Namun, hingga saat ini belum ada keputusan resmi mengenai pasangan calon yang akan bertarung dalam kontestasi tersebut. Melalui pernyataannya, Geisz menekankan pentingnya etika dan prinsip dalam membangun koalisi politik, serta menegaskan bahwa kemenangan elektoral tidak seharusnya mengesampingkan nilai-nilai yang menjadi dasar perjuangan politik.