Update
Inovasi Mahasiswa UNEJ: Terapi Koktail Bakteriofag untuk Mengatasi Keracunan Makanan Penelitian Dampak Kesehatan Anak-Anak Korban Tragedi 9/11 Dimulai, Fokus pada Racun Debu IHSG Melemah di Level 6.495, 535 Saham Mengalami Penurunan Budi Arie Setiadi Soroti Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Politik Basarnas Tingkatkan Upaya Pencarian Lima Jurnalis yang Hilang Saat Meliput Erupsi UNDIP Bekerja Sama dengan Universite Paris-Saclay untuk Meningkatkan Peringkat Global Melalui Riset dan Beasiswa Doktor Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau: Apakah Akan Segera Berakhir? Pertamina Ambil Alih SPBU Melanggar Aturan untuk Jamin Pasokan BBM Tim Gabungan Lanjutkan Pencarian di Selat Sunda, Temukan Life Jacket Universitas Buka Peluang bagi 8 Tim Unggulan untuk KKI dan KRTI 2026 dengan Inovasi Kapal Otonom Varuna Inovasi Mahasiswa UNEJ: Terapi Koktail Bakteriofag untuk Mengatasi Keracunan Makanan Penelitian Dampak Kesehatan Anak-Anak Korban Tragedi 9/11 Dimulai, Fokus pada Racun Debu IHSG Melemah di Level 6.495, 535 Saham Mengalami Penurunan Budi Arie Setiadi Soroti Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Politik Basarnas Tingkatkan Upaya Pencarian Lima Jurnalis yang Hilang Saat Meliput Erupsi UNDIP Bekerja Sama dengan Universite Paris-Saclay untuk Meningkatkan Peringkat Global Melalui Riset dan Beasiswa Doktor Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau: Apakah Akan Segera Berakhir? Pertamina Ambil Alih SPBU Melanggar Aturan untuk Jamin Pasokan BBM Tim Gabungan Lanjutkan Pencarian di Selat Sunda, Temukan Life Jacket Universitas Buka Peluang bagi 8 Tim Unggulan untuk KKI dan KRTI 2026 dengan Inovasi Kapal Otonom Varuna
News

--- Penurunan Jumlah RW Kumuh di Jakarta Mencapai 52,58 Persen dalam Delapan Tahun Terakhir ---

--- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan bahwa jumlah Rukun Warga (RW) kumuh di Jakarta mengalami penurunan signifikan, dari 445 RW pada 2017 menjadi 211 RW pada 2026. ---

Lare Ayu 06 May 2026 51 pembaca liputan6.com liputan6.com
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung usai audiensi bersama BPS di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (6/5/2026). (Liputan6.com/Winda Nelfira)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung usai audiensi bersama BPS di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (6/5/2026). (Liputan6.com/Winda Nelfira)
---TITLEEXCERPT--- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan bahwa jumlah Rukun Warga (RW) kumuh di Jakarta mengalami penurunan signifikan, dari 445 RW pada 2017 menjadi 211 RW pada 2026. ---CONTENT---

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan bahwa jumlah Rukun Warga (RW) kumuh di wilayahnya telah mengalami penurunan yang signifikan, yaitu sebesar 52,58 persen dalam delapan tahun terakhir. Dari data yang tercatat, jumlah RW kumuh berkurang dari 445 pada tahun 2017 menjadi 211 pada tahun 2026.


Pramono menjelaskan bahwa angka ini diperoleh dari hasil pendataan terbaru yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS), yang telah difinalisasi pada tahun 2026. "Ada penurunan RW Kumuh dari 445 di tahun 2017 menjadi 211 di tahun ini. Penurunannya kurang lebih 52,58 persen," ungkap Pramono usai audiensi dengan BPS di Balai Kota DKI Jakarta.


Meski demikian, Pramono menegaskan bahwa pencapaian ini tidak sepenuhnya dapat diklaim sebagai hasil kerja pemerintahannya. Ia menyebutkan bahwa pertumbuhan penduduk dan berbagai persoalan yang kompleks di lapangan tetap menjadi tantangan dalam penanganan kawasan kumuh. "Tetapi kalau melihat perkembangan jumlah penduduk bertambah, kemudian persoalan-persoalan lapangannya juga semakin kompleks, ada penurunan hampir 52 persen lebih, menurut saya sudah hal yang luar biasa dan saya mensyukuri itu," jelasnya.


Secara keseluruhan, Pramono menyampaikan bahwa jumlah RW di DKI Jakarta kini tercatat sebanyak 2.749 RW. Data ini akan menjadi acuan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan penanganan kawasan kumuh di masa mendatang. Ia menekankan pentingnya pendalaman data untuk memastikan kebijakan yang lebih tepat sasaran dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.


Sementara itu, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa pendataan RW kumuh dilakukan dengan metode kombinasi antara survei lapangan dan pemanfaatan teknologi citra satelit. "Dari hasil pendataan terakhir yang dilakukan tahun 2025 dan kemudian finalisasi angka di tahun 2026, maka yang teridentifikasi sebagai RW Kumuh adalah 211 RW Kumuh," tuturnya. Amalia menambahkan bahwa penggunaan metodologi berbasis big data melalui citra satelit membuat hasil pendataan lebih akurat dibandingkan metode sebelumnya.


Dengan demikian, hasil pendataan RW kumuh yang disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta akan lebih dapat diandalkan karena memanfaatkan teknologi terkini.


Artikel Terkait