Dalam konteks persiapan Pemilihan Umum (Pemilu) 2029, kader dari PDIP dan Gerindra mendapatkan perhatian lebih dibandingkan dengan PSI. Hal ini disampaikan oleh pegiat media sosial Chusnul Chotimah. Dia menekankan bahwa PDIP merupakan partai dengan jumlah kader yang paling diperhitungkan untuk pemilu mendatang. “Harus diakui PDIP itu sampai sekarang partai paling banyak kadernya yang diperhitungkan di 2029,” ujarnya dalam unggahan di X pada Jumat, 4 September 2026.
Chusnul menyebut beberapa nama dari PDIP, seperti Ganjar Pranowo, Puan Maharani, dan Pramono Anung. Sementara itu, dari Gerindra terdapat Prabowo Subianto dan Dedi Mulyadi. “Lihat aja yang diserang. Ada Ganjar, Puan, dan Pramono Anung. Di Gerindra, Prabowo dan KDM,” tambahnya. Di sisi lain, Chusnul juga menyebutkan keberadaan PSI, namun dengan catatan bahwa partai tersebut tidak diperhitungkan karena dianggap tidak kompeten. “Di PSI juga ada tapi bukan karena diperhitungkan di 2029 tapi karena ga becus kerja yaitu raja Juli,” pungkasnya.
Survei Elektabilitas Partai Politik
Survei yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Juli 2026 menunjukkan daftar elektabilitas partai politik. Beberapa partai yang lolos ambang batas parlemen dengan elektabilitas di atas 4 persen adalah: Gerindra (16,9%), PDI Perjuangan (11,7%), Golkar (9,6%), Demokrat (8,1%), PKB (5,4%), Nasdem (4,4%), PKS (4,4%), dan PSI (4,1%). Setelah hasil survei ini dirilis, PSI menjadi perbincangan karena berhasil melewati ambang batas parlemen dan dianggap sebagai ancaman bagi PDIP.
Namun, pengamat politik dari Universitas Hasanuddin, Endang Sari, menyatakan bahwa elektabilitas PSI yang mencapai 4,1 persen tidak cukup untuk mengancam PDIP. “4,1 persen itu kan menandakan bahwa masih naik sedikit sekali. Karena kemarin kan memang enggak sampai 4 persen. Nah, 4,1 itu artinya baru lewat pada ambang batas parlementer,” jelas Endang kepada fajar.co.id pada Rabu, 25 Agustus 2026. Dia menambahkan bahwa ambang batas parlemen saat ini masih 4 persen, dan PDIP adalah partai yang telah memenangkan dua pemilu terakhir.
Analisis dan Target PSI
Endang lebih lanjut menegaskan bahwa PSI bukanlah ancaman bagi PDIP. “Jadi belum cukup untuk mengancam. Baru sampai pada, oke, boleh untuk berpotensi untuk mendudukkan wakilnya di parlemen,” terangnya. Dia juga mengungkapkan bahwa meskipun Presiden ke-7 Jokowi aktif mengampanyekan PSI, dampaknya tidak akan mengancam PDIP, terutama dengan elektabilitas PSI yang masih rendah.
Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali, menanggapi hasil survei yang menunjukkan elektabilitas partainya sebesar 4,1 persen. Dia menganggap angka tersebut belum mencerminkan target politik yang ingin dicapai pada Pemilu 2029. Ahmad Ali menyatakan bahwa meskipun ada pertumbuhan dukungan, angka tersebut tidak boleh membuat kader merasa puas. “Kalau melihat angka 4,1 persen, tentu kami bersyukur karena ada pertumbuhan kepercayaan publik kepada PSI,” ujarnya pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Dia menekankan bahwa PSI memiliki target yang lebih tinggi, yaitu meraih kemenangan besar pada Pemilu 2029. “Karena itu kerja partai tidak boleh berhenti pada hasil survei,” tegasnya. Ahmad Ali juga mengingatkan bahwa persaingan menuju Pemilu 2029 akan semakin ketat dan partai harus mampu membangun kepercayaan melalui kerja nyata. “Dukungan tidak datang karena slogan, tetapi karena kepercayaan yang dibangun melalui kerja yang konsisten,” tambahnya. Untuk itu, PSI kini fokus pada konsolidasi internal dan penguatan struktur organisasi, serta memastikan agenda partai lebih dirasakan oleh masyarakat.
Ahmad Ali berharap kader tidak terlena dengan kenaikan elektabilitas menjadi 4,1 persen dan selalu mengingat bahwa angka tersebut tidak boleh membuat mereka puas.