Keluarga Joko Widodo menunjukkan bahwa mereka tidak harus terikat pada satu partai politik. Bobby Nasution telah memilih untuk bergabung dengan Partai Gerindra, sementara Kaesang Pangarep tetap berkomitmen pada PSI. Peneliti senior dari Citra Institute, Efriza, berpendapat bahwa perbedaan pilihan ini menunjukkan adanya pertimbangan politik yang berbeda di antara anggota keluarga Jokowi.
Analisis Perbedaan Pilihan
Efriza menyatakan, "Ini menarik. Dalam satu keluarga, pilihan kendaraan politiknya berbeda. Bobby di Gerindra, Kaesang di PSI. Artinya, hubungan keluarga tidak otomatis menentukan pilihan partai." Menurutnya, Bobby memiliki kepentingan politik yang berbeda karena sedang membangun karier di dunia politik.
Dia menjelaskan, "Kalau Bobby mengejar jabatan politik, dia membutuhkan partai yang punya kekuatan elektoral. Gerindra lebih menjanjikan untuk kepentingan tersebut." Sementara itu, Kaesang memiliki fokus untuk mengembangkan PSI sebagai sebuah organisasi politik. Efriza menambahkan, "Kaesang justru punya pekerjaan membesarkan PSI. Jadi kepentingannya berbeda dengan Bobby."
Peluang dan Tantangan bagi PSI
Efriza juga mengungkapkan bahwa situasi ini dapat memberikan keuntungan bagi keluarga Jokowi. Keluarga tersebut tidak sepenuhnya bergantung pada satu partai politik. "Secara strategi, ini bisa menguntungkan. Keluarga Jokowi punya ruang politik di lebih dari satu partai," ujarnya.
Namun, Efriza mengingatkan PSI untuk tidak menjadikan kondisi ini sebagai alasan untuk terus bergantung pada Jokowi. "PSI harus membuktikan bahwa partai ini bukan sekadar tempat Kaesang dan Jokowi berpolitik," tegasnya. Dia menambahkan bahwa tantangan bagi PSI menjelang Pemilu 2029 semakin berat, di mana publik akan menilai apakah PSI mampu berdiri sendiri.
Efriza menekankan, "Kalau suara naik, harus karena kerja partai. Kalau turun, jangan kemudian menyalahkan karena Bobby tidak bergabung." Ia juga menyatakan bahwa pilihan politik Bobby seharusnya tidak dianggap sebagai ancaman bagi PSI. "Jangan melihat Bobby sebagai orang yang meninggalkan PSI. Lihat ini sebagai momentum PSI untuk membuktikan bahwa mereka mampu membangun partai tanpa harus mengumpulkan seluruh keluarga Jokowi," tuturnya.