Pemikir media sosial, Chusnul Chotimah, menunjukkan rasa heran terhadap sikap para pendukung Jokowi yang dikenal dengan sebutan 'Termul' terkait kunjungan beberapa tokoh ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia membandingkan reaksi kelompok tersebut ketika Jokowi berkunjung ke NTT dengan saat Ganjar Pranowo datang untuk memberikan bantuan kepada korban gempa.
Chusnul menilai terdapat perbedaan signifikan dalam respons terhadap kedua tokoh tersebut. Ia mengangkat kunjungan Jokowi ke NTT yang dinilai berkontribusi pada aktivitas politik, di mana para pendukungnya menunjukkan reaksi positif. "Waktu Jokowi ke NTT main raja-rajaan dan kampanyekan PSI, termul senang banget," ungkap Chusnul.
Kunjungan Ganjar yang Berbeda
Selanjutnya, Chusnul membandingkan situasi ini dengan kunjungan Ganjar Pranowo ke NTT. Menurutnya, Ganjar hadir di wilayah tersebut untuk membantu korban gempa, namun ia mencatat bahwa pendukung Jokowi tidak menunjukkan respons yang sama positifnya terhadap kunjungan Ganjar. "Giliran Ganjar ke NTT bantu korban gempa, termul ga senang banget," cetusnya.
Chusnul pun mempertanyakan alasan di balik perbedaan sikap ini dan menggunakan istilah "AADT" yang merupakan singkatan dari "Ada Apa dengan Termul?" untuk menyindir kelompok tersebut.
Ganjar Rayakan Kemerdekaan Bersama Korban
Sebelumnya, Politikus PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo, beserta timnya mengunjungi para korban dan merayakan momen kemerdekaan bersama mereka meski dalam kondisi yang serba terbatas. Bersama warga yang terdampak, Ganjar merayakan HUT secara sederhana di pengungsian yang terletak di Klinik Pratama Panti Nirmala, Karot, Ruteng, Manggarai. Meskipun dalam keterbatasan, semangat para pengungsi tetap terlihat saat mereka menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, di mana Ganjar turut memimpin nyanyian tersebut. "Sekarang kita sama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya, siap?," ujarnya.
Ganjar menjelaskan bahwa tahun ini ia memilih untuk merayakan 17 Agustus bersama masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan akibat bencana. "Kali ini, kita merayakan 17 Agustus bersama mereka di pengungsian yang terletak di Klinik Pratama Panti Nirmala, Karot, Ruteng, Manggarai, NTT," ucapnya. Ia menyatakan bahwa perayaan kemerdekaan ini menjadi kesempatan untuk mendengar langsung berbagai cerita dari masyarakat yang terdampak gempa, termasuk pengalaman seorang ibu yang melahirkan dalam kondisi sulit dan anak-anak yang terpaksa tidur di tempat darurat.
"Seorang ibu yang melahirkan di tengah keterbatasan, anak-anak yang tidur di tempat darurat, dan saudara-saudara kita yang kehilangan rumah," tukasnya, menggambarkan beratnya kehidupan warga setelah gempa. Banyak di antara mereka masih bertahan di pengungsian karena kehilangan tempat tinggal atau belum bisa kembali ke rumah.
Meski berada dalam suasana duka, Ganjar mencatat bahwa semangat kemerdekaan tetap terasa di tengah para korban. Mereka bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai bentuk penghormatan sekaligus menjaga semangat kebangsaan. "Kita tetap menyanyikan lagu Indonesia Raya meski dalam kondisi berduka," imbuhnya. Ganjar menekankan bahwa momen tersebut menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan tetap dapat dirasakan meskipun di tengah berbagai keterbatasan dan musibah yang dihadapi masyarakat.