PT PLN (Persero) terus berupaya memperkuat pengembangan produk energi hijau dengan menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) bersama The Climate Group (RE100). Acara penandatanganan tersebut dilaksanakan pada hari Selasa, 6 Oktober, dalam rangka Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 yang berlangsung di Jakarta. Kerja sama ini bertujuan untuk mendukung investasi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan dunia usaha akan energi berkelanjutan yang dapat diandalkan dan transparan.
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, menyatakan bahwa posisi strategis Indonesia serta potensi sumber daya domestik yang melimpah menjadi modal yang kuat untuk menarik investasi hijau. Menurutnya, kekayaan sumber energi terbarukan yang dimiliki Indonesia memberikan keunggulan dalam membangun ekosistem energi berkelanjutan dan membuka peluang investasi yang lebih luas. "Kami adalah bangsa yang cinta damai, yang menarik investor dan sahabat dari berbagai penjuru dunia. Indonesia diberkahi geothermal. Indonesia diberkahi sinar matahari, sumber daya air, tenaga hidro. Kita memiliki banyak sumber energi yang merupakan bagian dari sektor berkelanjutan," ungkap Hashim.
Kolaborasi Strategis untuk Energi Berkelanjutan
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menekankan bahwa potensi energi terbarukan di Indonesia sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi serta menarik investasi. Ia menjelaskan bahwa kolaborasi antara PLN dan The Climate Group merupakan langkah strategis untuk mendorong pengembangan produk energi ramah lingkungan, sekaligus memenuhi kebutuhan energi terbarukan dari perusahaan global dengan solusi energi hijau yang ditawarkan PLN. "PLN tidak hanya menyediakan listrik, tetapi juga membangun ekosistem energi yang mampu menjawab kebutuhan investasi dan pertumbuhan industri. MoU dengan The Climate Group menjadi bagian dari upaya strategis untuk mempertemukan kebutuhan perusahaan global terhadap energi terbarukan dengan pengembangan solusi energi hijau di Indonesia. Melalui penyediaan energi yang andal, berkualitas, dan semakin hijau, PLN ingin mendukung investasi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," jelas Darmawan.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi ini juga didorong oleh meningkatnya kebutuhan energi hijau di Indonesia. Diperkirakan pada tahun 2025, jumlah pelanggan Renewable Energy Certificate (REC) PLN akan mencapai 18.715 pelanggan dengan volume energi sebesar 6,43 TWh, meningkat dari 7.354 pelanggan dengan volume 5,38 TWh pada tahun 2024. Permintaan tersebut berasal dari berbagai sektor, termasuk pertambangan, manufaktur, kimia, pulp dan kertas, makanan, serta pusat data. "Selain membutuhkan listrik yang andal, dunia usaha kini membutuhkan listrik yang semakin hijau, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan secara global. Kami ingin memastikan bahwa setiap kebutuhan energi hijau dari industri dapat kita jawab dengan solusi yang kredibel, sekaligus mengoptimalkan kekayaan energi terbarukan Indonesia guna menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tambah Darmawan.
Peluang Investasi dan Pengembangan Produk Energi Hijau
Sementara itu, Direktur Retail dan Niaga PLN, M. Fahrur Rozy, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan The Climate Group sebagai organisasi internasional yang mendorong penggunaan energi terbarukan dan menaungi lebih dari 400 perusahaan global melalui inisiatif RE100, akan semakin memperkuat ekosistem energi hijau di Indonesia. "Melalui kemitraan kami dengan The Climate Group, kami bertujuan untuk memperkuat hubungan antara permintaan energi hijau yang terus tumbuh dan pengembangan solusi energi terbarukan di Indonesia, serta membuka peluang investasi baru," kata Rozy.
Rozy melanjutkan, selain mencakup identifikasi kebutuhan energi terbarukan dari anggota RE100 yang telah beroperasi maupun yang berencana berinvestasi di Indonesia, melalui MoU ini, kedua pihak juga akan mengembangkan produk energi hijau melalui berbagai inisiatif. "Kami akan mengembangkan produk energi hijau melalui studi, asistensi teknis, dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Kolaborasi ini juga mencakup kajian penerapan Nilai Ekonomi Karbon (NEK), peningkatan transparansi dan kredibilitas perhitungan emisi dalam transaksi Renewable Energy Certificate (REC), serta riset kebijakan ketenagalistrikan," tutup Rozy.
Di sisi lain, Chief Executive Officer (CEO) The Climate Group, Helen Clarkson, menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan utama di bidang energi terbarukan. Namun, untuk mengoptimalkan potensi tersebut, diperlukan investasi bisnis yang signifikan untuk mengembangkan proyek energi bersih serta memastikan ketersediaan listrik terbarukan yang dapat diandalkan dan terjangkau. "Indonesia memiliki semua potensi untuk menjadi kekuatan besar di bidang energi terbarukan, namun untuk mengoptimalkan potensi tersebut diperlukan investasi bisnis yang besar pada proyek-proyek energi bersih baru. Kami sangat antusias bekerja sama dengan para anggota kami dan PLN untuk membantu mewujudkan ketahanan energi, daya saing, serta pertumbuhan ekonomi yang dapat dihadirkan oleh energi terbarukan bagi Indonesia," pungkas Helen.