JAKARTA - Efriza, seorang peneliti senior di Citra Institute, mengungkapkan bahwa Partai Gerindra kemungkinan besar akan tetap memprioritaskan Prabowo Subianto untuk kembali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden 2029. Hal ini meskipun hasil survei dari SMRC menunjukkan bahwa elektabilitas Dedi Mulyadi, atau yang akrab disapa KDM, lebih tinggi.
Menurut Efriza, selama Prabowo masih memiliki keinginan untuk bertarung dalam pemilihan presiden, dukungan internal dari Gerindra akan tetap kuat. "Gerindra rasanya harga mati untuk memberikan dukungan dan memprioritaskan Prabowo untuk dua periode, apalagi jika Prabowo sendiri masih memiliki keinginan maju, maka dukungan internal partai tetap solid," ujarnya pada Minggu (18/10).
Peluang KDM dalam Skenario Politik
Efriza juga menilai bahwa tingginya elektabilitas KDM merupakan aset politik yang signifikan. Namun, hal ini belum tentu mengubah arah politik Gerindra. Ia mengusulkan bahwa salah satu kemungkinan adalah pasangan Prabowo dan KDM dalam satu tiket calon presiden dan calon wakil presiden. "KDM meski tinggi elektabilitasnya sebagai capres, namun ditengarai ia ditempatkan sebagai cawapres dari Prabowo," jelasnya.
Walaupun demikian, keputusan tersebut sangat bergantung pada dinamika politik yang ada serta kesediaan partai-partai lain yang berkoalisi mendukung Prabowo. Efriza juga menekankan bahwa tantangan bagi Gerindra tidak hanya terletak pada pemilihan pasangan calon, tetapi juga dalam menjaga agar dukungan koalisi tetap terjaga.
Faktor Penentu Keputusan Gerindra
Ia memperkirakan bahwa keputusan yang diambil oleh Gerindra nantinya tidak hanya akan didasarkan pada hasil survei, tetapi juga pada perhitungan politik Prabowo. "Yang lebih memungkinkan adalah keputusan Partai Gerindra tergantung dari hitung-hitungan Prabowo semata," tambah Efriza.
Dalam survei terbaru yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) pada 1-10 Oktober 2026, terungkap bahwa elektabilitas Prabowo mengalami penurunan signifikan. "Elektabilitas Prabowo menurun," demikian pernyataan lembaga tersebut. Dalam survei yang dilakukan pada November 2025, Prabowo tercatat memiliki elektabilitas sebesar 34,9 persen, namun angka ini turun menjadi 33,3 persen dalam survei Februari-Maret 2026.
Tren penurunan ini berlanjut, dengan elektabilitas Prabowo tercatat hanya 14,5 persen pada survei Juli 2026, dan semakin merosot menjadi 9,8 persen pada survei Oktober 2026. Sementara itu, elektabilitas Dedi Mulyadi menunjukkan tren positif, meningkat dari 19,7 persen pada November 2025 menjadi 35,5 persen pada Oktober 2026.