Ahmad Ali, yang menjabat sebagai Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), menilai bahwa elektabilitas partainya yang tercatat sebesar 4,1 persen dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) belum memenuhi target politik yang ingin dicapai dalam Pemilu 2029. Meskipun demikian, ia menyatakan rasa syukur atas peningkatan dukungan publik yang diperoleh. Namun, angka tersebut tidak seharusnya membuat para kader merasa puas atau terlena.
“Kalau melihat angka 4,1 persen, tentu kami bersyukur karena ada pertumbuhan kepercayaan publik kepada PSI,” ungkap Ahmad Ali dalam pernyataannya. Ia menekankan bahwa hasil survei ini seharusnya menjadi pendorong bagi PSI untuk memperkuat kinerja politiknya, mengingat partai yang didirikan oleh Kaesang Pangarep ini memiliki target yang jauh lebih ambisius untuk Pemilu 2029. “Tetapi bagi kami, itu masih terlalu kecil. Target kami menang besar. Karena itu kerja partai tidak boleh berhenti pada hasil survei,” lanjutnya.
Persaingan yang Semakin Ketat
Ahmad Ali menambahkan bahwa persaingan dalam Pemilu 2029 akan semakin ketat. Ia menekankan pentingnya PSI untuk membangun kepercayaan publik melalui kerja politik yang konsisten dan dapat dirasakan oleh masyarakat. “Lanskap politik hari ini sangat kompetitif. Publik memiliki banyak pilihan. Karena itu, tugas kami adalah memastikan PSI hadir dan bekerja di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia juga berpendapat bahwa elektabilitas tidak dapat dibangun hanya melalui slogan atau kampanye semata. Dukungan dari masyarakat, menurutnya, merupakan hasil dari kepercayaan yang dibangun dalam jangka panjang. “Dukungan tidak datang karena slogan, tetapi karena kepercayaan yang dibangun melalui kerja yang konsisten,” tambah Ahmad Ali.
Fokus pada Konsolidasi Internal
Dengan demikian, PSI akan memprioritaskan kerja politik pada konsolidasi internal dan penguatan struktur organisasi. Ahmad Ali menegaskan bahwa hasil survei hanya mencerminkan posisi partai pada satu waktu tertentu, sementara Pemilu 2029 masih memiliki waktu yang cukup panjang. “Survei memberi gambaran tentang posisi kita hari ini. Tetapi pemilu ditentukan oleh kerja panjang,” jelasnya. Ia juga mengingatkan agar kader tidak terlena dengan angka elektabilitas 4,1 persen. “Saya selalu sampaikan kepada kader bahwa angka 4,1 persen tidak boleh membuat kita puas,” tegasnya.
Sementara itu, hasil survei dari Indonesia Political Opinion (IPO) yang dilakukan antara 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 menunjukkan angka yang berbeda untuk elektabilitas PSI, yaitu hanya 1,9 persen. Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, menyatakan bahwa aktivitas politik Presiden Joko Widodo belum memberikan dampak signifikan terhadap elektabilitas PSI, meskipun tingkat pengenalan masyarakat terhadap partai ini cukup tinggi, dengan 70,2 persen responden mengaku mengetahui logo PSI.
“Namun, tingkat pengenalan tersebut belum berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan. Dalam simulasi yang sama, PSI hanya meraih 1,9 persen suara,” kata Dedi. Ia menambahkan bahwa peluang bagi PSI untuk meningkatkan elektabilitas menjelang Pemilu 2029 masih terbuka, dan dampak dari aktivitas politik Jokowi mungkin baru terlihat dalam jangka waktu yang lebih panjang. “Mungkin dampaknya baru terlihat setelah roadshow selesai, atau dalam satu tahun ke depan. Kalau dilakukan secara konsisten, bisa saja elektabilitasnya naik,” ujarnya.
Perbedaan hasil survei antara SMRC dan IPO menunjukkan bahwa posisi elektoral PSI masih dinamis. Bagi Ahmad Ali, angka-angka tersebut bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pijakan untuk mengejar target yang lebih besar di Pemilu 2029. “Target kami jelas, menang besar dan menjadi kekuatan politik yang semakin relevan bagi masa depan Indonesia,” tutupnya.
Dalam survei IPO, elektabilitas partai politik untuk DPR RI tercatat sebagai berikut: Gerindra 17,5 persen, PDI Perjuangan 12,8 persen, Golkar 10,4 persen, Demokrat 8,1 persen, PKB 7,0 persen, PAN 5,1 persen, PKS 4,6 persen, NasDem 4,4 persen, dan PSI 1,9 persen.