Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) tengah melakukan penyelidikan terkait mogoknya taksi Green SM yang terjadi di perlintasan rel kereta api di Bekasi Timur, Jakarta. Penyelidikan ini bertujuan untuk mengungkap kemungkinan adanya hubungan antara berhentinya mesin taksi dengan kondisi perlintasan yang diduga memiliki muatan listrik.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menjelaskan bahwa aspek teknis pada perlintasan sebidang rel kereta menjadi fokus dalam penyelidikan. Ia mengingatkan masyarakat akan bahaya yang mungkin timbul dari medan listrik dan magnet di sekitar rel kereta. "Ini akan sangat berbahaya apabila digunakan melewati rel kereta yang memang ada medan magnet dan medan listrik," ungkap Budi dalam keterangan pers di Jakarta Pusat.
Penyelidikan ini dipicu oleh kejadian di mana taksi listrik Green SM secara tiba-tiba berpindah ke posisi gear parkir saat berada di atas rel. "Kami ingin mengetahui apakah ada pengaruh dari medan listrik dan medan magnet yang mengakibatkan mesin mati dan beralih ke posisi gear parkir," jelas Budi. Ia juga menambahkan bahwa sopir taksi berinisial RRP telah menjalani tes urine dan hasilnya negatif dari konsumsi alkohol, sehingga saat ini statusnya masih sebagai saksi dalam kasus tersebut.
Lebih lanjut, Budi mengungkapkan bahwa RRP baru bekerja selama dua hari sebelum insiden kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line. "Sopir tersebut mulai bekerja pada 25 April 2026, sehingga baru beberapa hari sebelum kejadian," ujarnya. Selain itu, RRP hanya menjalani pelatihan selama satu hari sebelum mulai bertugas, yang hanya mencakup pengenalan dasar mengenai kendaraan.
Dengan adanya fakta-fakta ini, penyelidikan oleh Puslabfor diharapkan dapat memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai insiden yang terjadi di perlintasan kereta Ampera, Kecamatan Bekasi Timur, pada 27 April 2026. Proses penyelidikan ini akan terus berlanjut untuk memastikan keselamatan di perlintasan kereta di masa mendatang.