Istilah 'Londo Ireng' yang diungkapkan oleh Presiden Prabowo Subianto terus memicu berbagai interpretasi di kalangan masyarakat. Rocky Gerung, seorang pengamat politik, menarik istilah tersebut ke dalam konteks pertarungan politik yang melibatkan Presiden ke-7 RI, Jokowi, serta Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Menurut Rocky, 'Londo Ireng' tidak hanya merujuk pada pengkhianat di masa lalu, tetapi juga relevan dengan kondisi politik Indonesia saat ini.
Interpretasi Beragam Terhadap 'Londo Ireng'
Rocky menyatakan bahwa pernyataan Prabowo mengenai 'Londo Ireng' memberikan ruang bagi publik untuk menafsirkan istilah tersebut dengan cara yang berbeda. Ia mencatat bahwa sebagian orang mungkin tidak merasa istilah itu ditujukan kepada mereka, sementara yang lain dapat mengaitkannya dengan sosok tertentu dalam dinamika politik nasional. "Misalnya peristiwa Londo Ireng. Itu diingat orang lagi bahwa, oh ya kami tahu bahwa ada pengkhianat di masa lalu itu," jelas Rocky. "Dan hari-hari ini juga ada pengkhianat. Jadi kalau Presiden bilang londo ireng, publik terbagi dua," tambahnya.
Jokowi dalam Konteks 'Londo Ireng'
Rocky kemudian mengembangkan interpretasi tersebut dengan menyebut Jokowi sebagai salah satu sosok yang dapat dikaitkan dengan istilah “Londo Ireng”. Ia menghubungkan hal ini dengan dugaan pengkhianatan terhadap konstitusi. "Dia merasa dia tidak dituduh, tapi ada yang merasa dia dituduh itu. Tapi bagi publik umum merasa, ya memang ada pengkhianat kok," ungkap Rocky. "Siapa yang londok ireng? Misalnya kalau kita radikalkan, ya Jokowi. Mengkhianati apa? Menghianati konstitusi," tegasnya.
Mengaitkan Megawati dalam Diskusi
Rocky juga menyebut Megawati dalam pembahasannya, menyoroti adanya isu politik masa lalu yang memberikan konteks tersendiri bagi istilah pengkhianatan dalam pandangan Megawati. "Siapa yang mesti ucapkan itu? Publik. Siapa yang paling dendam dengan isu itu? Megawati," ujarnya. Rocky melanjutkan analisisnya dengan menyatakan bahwa istilah 'Londo Ireng' dapat dipahami dalam relasi politik antara Megawati dan Jokowi. "Ya karena pengkhianatan tadi, meskipun menggawati ini loh, jadi Londo Ireng terhadap Megawati misalnya," imbuhnya.
Peran Prabowo dalam Dinamika Politik
Rocky melihat posisi Prabowo dalam konteks politik ini sebagai penting. Ia berpendapat bahwa Prabowo tidak seharusnya menjadi pihak yang secara langsung mewakili kepentingan politik Megawati, tetapi dapat berfungsi sebagai artikulator dalam dinamika politik yang lebih luas. "Dan Prabowo menjadi artikulatornya Megawati. Prabowo bukan jadi akurator, dia mesti memoderasi isu itu. Sebelum ada proses politik di DPR," jelas Rocky.
Ia juga menekankan pentingnya publik untuk memahami pernyataan Prabowo secara lebih luas dan tidak hanya terfokus pada ucapan literal mengenai 'Londo Ireng'. "Kan nggak mungkin Presiden jadi artikulator Megawati. Tapi Presiden mengerti Ibu Mega punya potensi untuk mengartikulasikan itu di dalam sistem demokrasi melalui upaya-upaya pemakzulan," tambahnya.
Rocky mengingatkan bahwa publik cenderung menahan diri untuk menarik kesimpulan lebih jauh dari pernyataan Prabowo. "Orang menahan diri untuk menganalisanya melebihi dari apa yang diucapkan oleh Prabowo," tuturnya. Ia menekankan bahwa isu ini menarik untuk diperluas dengan mempertanyakan siapa sebenarnya sosok yang dimaksud dengan istilah 'Londo Ireng'. "Nah sekarang kita perluas. Who is the thing. Called Londo Ireng. Itu jawabnya. Siapakah barang itu, yang disebut sebagai Londo Ireng," pungkasnya.