Dalam perdagangan hari ini, Senin (28/9), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat sebesar 13 poin, mencapai level Rp 17.902. Pergerakan ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS dan berbagai sentimen global serta domestik yang mempengaruhi pasar.
Faktor Geopolitik dan Ekonomi Global
Menurut pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, kondisi nilai tukar rupiah hari ini dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hal ini terjadi setelah Iran menyatakan bahwa mereka tidak akan melunakkan syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz. Iran mengusulkan agar Selat Hormuz dapat dibuka kembali dalam waktu tujuh hari, dengan syarat negosiasi dilanjutkan dan Washington mencabut blokade serta sanksi minyak. Meskipun Presiden Trump menolak syarat tersebut, laporan dari Axios memperkirakan bahwa negosiasi antara kedua belah pihak akan dilanjutkan minggu ini dengan Qatar sebagai mediator.
Ibrahim juga menambahkan, "Menambah kekhawatiran terkait pasokan, pasukan Houthi yang didukung Iran di Yaman juga telah meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal komersial di Laut Merah."
Pengaruh Harga Minyak dan Kebijakan Moneter
Dari sisi domestik, Ibrahim menyebutkan bahwa harga minyak dunia yang tetap di atas USD 90 per barel menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan risiko terhadap perekonomian nasional melalui inflasi, fiskal, dan keseimbangan eksternal. Dalam APBN 2026, asumsi harga minyak mentah Indonesia ditetapkan pada USD 70 per barel, sementara ICP Juli tercatat mencapai USD 81,68 per barel. Jika harga tetap tinggi, hal ini dapat memperlebar defisit anggaran.
Pemerintah memiliki beberapa opsi untuk mengatasi situasi ini, mulai dari menambah subsidi hingga menyesuaikan harga energi domestik. Setiap kenaikan ICP sebesar USD 1 per barel dapat memperlebar defisit sekitar Rp 6,8 triliun. Selain itu, potensi risiko dari kenaikan harga energi dunia dan ancaman fenomena cuaca El Nino terhadap ketersediaan pangan juga menjadi perhatian serius bagi otoritas moneter.
Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Ibrahim menekankan bahwa ruang untuk pelonggaran moneter dalam waktu dekat diperkirakan akan semakin terbatas, seiring dengan meningkatnya laju inflasi bulan Agustus yang mencapai 3,19 persen secara tahunan.
Untuk proyeksi perdagangan besok, diperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif, namun kemungkinan akan ditutup melemah dalam rentang Rp 17.900 hingga Rp 17.950.